you're reading...
Ekspedisi Luar Negeri

Pelaksanaan ekspedisi melenceng jauh dari persiapan (wawancara Ekpedisi Elbrus)

Wawancara Danang Chapung Seno 323/SPA/91 (Sekretaris Ekspedisi Mt.Elbrus 1991)

Danang :

Wah, sebenarnya kalo diminta mengulas, memang ada suka.. sedikit lebih banyak dukanya. Tapi gimanapun juga, gue banyak belajar dari proses persiapan Elbrus, dan asli banyak yang terpakai ilmunya sampai saat ini. Tak coba dikit-dikit ya :
Gimana suasana dan kondisi ekspedisi ini waktu itu ?
Suasana dan kondisi dari persiapan sich sebenarnya cukup oke. Semua anggota Tim bekerja sangat semangat dan antusias. Persiapan dilakukan dengan cukup teliti. Seperti peralatan, perijinan, fisik, support tim, administrasi, bahkan seleksi sebenarnya dilakukan sangat berhati-hati. Namun sandungan klise yang selalu jadi momok buat mahasiswa yg nota bene belum berpenghasilan minim adalah DANA atawa FULUS alias UANG. That’s the only one but big problem.
Sepertinya ekspedisi ini dipaksain banget ya?
Kalo dikatakan dipaksakan, jawabannya dengan tegas : YA. Pelaksanaan ekspedisi melenceng jauh dari persiapan dan perencanaan. Penyimpangan tersebut terutama adanya jumlah tim yang ditekan terlalu minim untuk mensiasati penghematan dana. Kira-kira seperti ini kejadiannya :

  1. Calon peserta diambil (kalo tidak salah) 12 orang ‘terbaik’ yang nantinya akan diseleksi untuk diambil SEKURANG-KURANGNYA 3 (tiga) orang, dan bisa ditambah jumlahnya bila dana MEMADAI.
  2. Sebagai antisipasi, proposal yang ada disusun untuk pembiayaan sebanyak (kalo tidak salah lagi) 5 atau 7 orang (lupa gue, pokoke banyak).
  3. 12 calon harus mengikuti training yang ketat dan pendakian-pendakian sebagai latihan. (sebagai catatan, ketat ini versi STAPALA loh…).
  4. Dari hasil seleksi akhirnya diambil 5 orang dan kemudian ditekan lagi menjadi 3 orang karena dana minim banget bahkan untuk 3 orang ini masih gak cukup. Seingat gue, 2 diantara yg diambil Gue ama Febra. Satu lagi lupa. Kalo tidak salah sih, si Joko. Dengan kriteria : Bisa bekerja sama tim, kompak, ngerti navigasi, fisik oke, ngerti peralatan, ikut aktif dalam persiapan ekspedisi dan satu lagi (ini point buat gue hehehe) ngerti bahasa inggris meskipun sedikit.
  5. Karena mendekati Deadline ternyata dana masih juga belum mencapai target, akhirnya diputuskan (DENGAN GEGABAH!!!) hanya diberangkatkan 1 (SATU) orang saja. Dengan kriteria tambahan : Mampu menyuntik dana dan berani sendirian. Mengusai bahasa inggris sudah pasti wajib. Dan akhirnya terpilihlah TRI BUDI . Yang sebenarnya sama sekali tidak ikut dalam mempersiapan ekspedisi.

Penyebab gagalnya Pendakian ?

Kegagalan sendiri menurut kami, gak jelas dan penuh misteri. WHY? Dari penjelasan Budi sich katanya jalur pendakian ke Elbrus saat itu ditutup karena ada perang di Bosnia. Lho kok? Padahal kami sudah konfirmasi terus dengan contact person di sana (dengan pihak Souvinter Sport / Alpindustria). Dan mereka bilang oke. Dan kalo pun memang benar itu terjadi, dan kalo yang bersangkutan ikut aktif dlm persiapan, tentunya gak rela sampai gagal, dan pasti berusaha APA PUN CARANYA, untuk bisa tetap naik ke sana. Tapi saat ini ybs nyantai aja, malah cerita kalo habis jalan-jalan ke ini dan itu dan sama sekali tidak memberikan penjelasan yang rinci tentang kronologis kegagalannya. Mau gimana lagi, kita sudah pilih dia, mau diapain lagi.

Apa yang elo rasakan ketika mendengar pendakian ini gagal ?

Wah, denger gagal gitu, hati rasanya ancur Brik. Asli. Dan gue inget bener, si Joko bener-bener nangis di posko. Gimana nggak, persiapan Elbrus sampai berimbas si Joko ngulang kuliah. Eh gagal. Langsung terbayang gimana gue ama Febra keliling Jakarta cari dana, ban motor kempes, ndorong waktu hujan, kecipratan mobil, dimarah-marahin staf Dirjen, begadang terus. Wis, pokoke berkecamuk. Dan yang paling gila lagi, gue ama Joko sempet punya rencana buat gebukin si Budi. Hehehe. Orang yang paling tenang ya si Febra, meskipun gue tahu hatinya down juga.

Ada pesan buat anak stapala sekarang ? untuk ekspedisi selanjutnya

Kalo pesen sich, gak ada yang special. KENAPA? Pelajaran yang gue ambil : resiko dalam setiap keputusan, pasti ada. Jangan kuatir dalam mengambil keputusan. Hasil akhir, gak selalu sesuai dengan yang kita targetkan meskipun sudah direncanakan dengan matang. Meskipun gagal mendaki Elbrus, perlu dicatat bahwa kita sudah berhasil mengirim walaupun hanya 1 (SATU) orang ke RUSIA sebagai DUTA DARI STAPALA. Ini perlu digarisbawahi karena hal ini yang sering kami lupakan. Namun hal penting yang sebaiknya diperhatikan :

  • Jangan selalu kuatir apalagi mundur hanya karena dana yang minim. Apapun kegiatannya tetap maju terus. Memang begitulah STAPALA (dan mungkin Kel. Pecinta ALam lain juga) dan ini sebenarnya ilmu penting yang gue rasakan sampai saat ini. BEING SURVIVE IN EVERY CONDITION !!! Jangan kaku dengan masalah dana.
  • Libatkan selalu peserta ekspedisi dalam setiap persiapan. OWNERSHIP sangat berperan penting dalam kesuksesan Ekspedisi atau pun kegiatan lain. Anak Stapala kan paling oke dalam bermanuver. Tidak ada kata menyerah, atau tidak bisa. THERE IS A WILL, THERE IS A WAY…
  • Cobalah untuk selalu ‘HEBOH’. Apapun kegiatannya, buat seakan-akan kegiatan tersebut adalah kegiatan AKBAR dan SPEKTAKULER. Jangan terlalu formal (ini kelemahan gue dulu, dan sekarang udah gak lagi lho, semua karena STAPALA). Lakukan ala STAPALA. Ingat… sekecil apapun kegiatannya (bahkan sekedar Buka Bersama atau Donor Darah), buat promosi se- HEBOH mungkin..
  • Kita tunggu berita ekspedisi ‘HEBOH’ Stapala berikutnya….

Sementara itu dulu. Ada yang lain lagi?
Sekali lagi, sebagai catatan, gue sama sekali gak menyesal mempersiapkan ekspedisi itu. Banyak pelajaran di situ. Yach, kalo sebel sama Budi sich, ada dikit. hehehe…
Cuma tolong dicatat bener-bener : Stapala tidak 100% gagal di Elbrus. Kita telah berhasil mengirim wakil kita ke sana, namun situasi yg ternyata mendadak berubah di sana. DON’T GIVE UP !!!!

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

4 thoughts on “Pelaksanaan ekspedisi melenceng jauh dari persiapan (wawancara Ekpedisi Elbrus)

  1. Bang Jabrik,,
    Bang TRI BUDI SANTOSO koq gak ada di data base ya?
    Adanya : 297 /SPA/ 1991 BUDI SANTOSO (JEMPOL) atau 308 /SPA/ 1991 TRI BUDI R.

    Posted by Kadal 789 | April 11, 2011, 2:25 am
  2. imajinasi saya..bang Joko berdoa u/ masa depan dalam kekecawaanx dulu..dan saat ini, beliau menangis kembali dngn suasana hati yg brbeda..Bang Seno,Bang Joko, Bang Fembri, Bang Tri Budi, jg lainx yg trlibat dlm ekspedisi Elbrus 91,adlh bagian besar motivasi ekspedisi saat ini..mari lakukan dngn gaya stapala yang STAPALA!! Yehuu!!

    Posted by chekong 830 | August 12, 2011, 5:14 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Elbrus, Sebuah Mimpi yang Tertunda « Ekspedisi Elbrus STAPALA - August 12, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: