you're reading...
Ekspedisi Luar Negeri

Stapala Alpen Expedition 1987

Keinginan Stapala untuk mencapai Puncak Jaya dan Carstenz Pyramid di Pegununungan Jayawijaya terpaksa urung hanya sebulan sebelum D-day yang sudah lama direncanakan.

Pembatalan disebabkan tidak keluarnya ijin pendakian dari Laksusda Irian Jaya dan Ditintelpam Polri di MABAK Jakarta dengan alasan pada waktu itu (April-Mei) terjadi insiden atas 4 pendaki Universitas Trisakti di Carstenz. Tim Ekspedisi dan BPH Stapala pun berembuk dan akhirnya diputuskan Puncak Mt. Blanc (4807 m) di Perancis selatan, puncak tertinggi di pegunungan Alpen sebagai penggantinya. Tim Ekspedisi punya usul untuk menjajal juga “merayapi” Tower Matterhorn (4478 m) di Swiss Selatan yang juga masih termasuk gugusan Pegunungan Alpen.

Persiapan yang Tergesa-gesa

Pendakian pegunungan bersalju ini adalah pengalaman baru sekaligus pertama bagi Stapala untuk jalan-jalan ke luar negeri. Diputuskannya Mt.Blanc sebagai pengganti ekspedisi Jayawijaya jelas membuat tidak cukup nya dana untuk 7 orang calon tim ekspedisi. Tentunya nggak bisa kan numpang Herculesnya AURI ke Eropa? Untuk mengatasinya maka dengan sangat menyesal terpaksa tim harus diciutkan menjadi 2 orang saja : Arya Bratha (058/SPA/85) dan Doddy Taufik Wijaya (058/SPA/85).

Waktu yang sebulan itu kami gunakan seefektif mungkin, ya ngurus dokumen perjalanan (tiket,passport,visa,dll), ya minjem alat-alat, ya packing barang-barang, ya latihan fisik dan rock climbing, juga kasak kusuk cari tambahan danan, pokoknya ‘no time for santai-santai deh’.

Sedikit agak tergesa-gesa memang, malah informasi tentang Mt. Blanc dan pegunungan Alpen yang kami dapat minim sekali. Info itu kami dapat dari tim-tim yang pernah berkunjung ke sana. Walaupun dengan persiapan yang demikian kami tetap berangkat pada hari yang direncanakan , 14 Juli 1987, Selasa Pahing.

Pukul 4 sore acara pelepasan tim ekspedisi oleh Senat Mahasiswa STAN, BPH Stapala dan rekan-rekan Stapala di kampus selesai. Kami langsung diantar ke Bandara Sukarno Hatta untuk mengejar pesawat Garuda Indonesia tujuan Zurich jam 19.00 WIB.

Setelah check in, beli Franc Swiss dan Perancis serta urusan-urusan lainnya beres kami bergegas ke ruang tunggu. Tapi ternyata Boeing 747 yang akan membawa kami baru bisa tae off jam 21.00. selama di pesawat rencana perjalanan di evaluasi lagi sambil membayangkan kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin mungkin saja terjadi,…maklum jauh dari rumah kan. Penerbangan 16 jam lebih sedikit ternyata bikin bosan juga. Lima belas Juli jam 08.30 pagi kami sudah di Flughafen (Bandar Udara) yang megah itu. Lega deh.

Repot juga ngangkut barang-barang yang 6 potong itu;2 ruck-sack,2 oneday pack; dan 2 hand back. Untunglah kami nggak menemui kesulitan di imigrasi. Petugas pabean membiarkan kami jalan terus keluar airport tanpa menyentuh bawaan kami yang banyak itu. Mungkin face kami cukup bersahabat..wow..

Langsung saja kami turun ke lantai bawah yang merupakan stasiun kereta listrik. Beli ticket ke Bern, sesuai rencana Kami, untuk melapor dahulu di KBRI-Bern. Tiket ke Bern kelas 2 dengan harga 33 Fr Swiss perorang, sekali jalan itu menurut kami mahal sekali,kurang lebih sama dengan harga tiket kereta Bima Jakarta-Surabaya pulang pergi. Padahal jarak Zurich-Bern Cuma 125 km, ditempuh dalam 1 jam 50 menit !

Pukul 09.43 tepat (nggak pake ngaret lho..)kereta kami berangkat ke Bern, nyaman memang, tapi sesuai dong dengan harga tiketnya.Tiba di Bern pukul 11.33, lagi-lagi kerepotan nurunin barang-barang yang nggak begitu perlu.

Saya langsung telpon ke KBRI dengan koin yang diperloleh dari ibu-ibu bule dengan bahasa Jerman yang pas-pasan…nggak percuma tuh kursus di Goethe Institute. Ternyata nasib lagi bagus, Pak Hartono,Sekpri Duta Besar RI di Bern akan menjemput kami di Bahnhof (stasiun).Tepat jam 13.00 beliau datang dengan Mercedez Benz stasiun wagon-nya, barnag-barang terus dianikan ke mobil dan Kami terus ke Wisma Dubes untuk mengantarkan surat-surat dan beberapa titipan yang kami bawa dari Jakarta untuk Ibu Hadi Thayeb.

Setelah melepas di KBRI, kami segera kembali ke stasiun. Tujuan kami selanjutnya adalah Chamonix. Kereta berangkat tepat pukul 15.50.

Hari Kamis,16 Juli 1987 jam 08.30 akhirnya kami sampai di cahmonix,kota turis yang terkenal di seluruh Eropa terutama bagi pendaki yang berniat jalan-jalan ke pegunungan Alpen-Perancis………

Arya Bratha

Minggu 19 Juli, adalah hari ketiga pendakian.Cuaca cerah meski angin masih menderu-deru diluar pondok Gouter. Jam 09.00 pendakian ke puncak dimulai.Kami menjelajahi padang salju Gouter dengan memakai crampoon (paku-paku es) di sepatu. Secara moving together kami melangkah dengan hati-hati di padang salju yang putih seperti tak berujung itu.Disini banyak terdapat crevase (rekahan/lobang salju) yang siap menelan pendaki-pendaki ceroboh.

Dua setengah jam kemudian kami tiba di sebuah puncak yang dipeta tertulis Dome Du Gouter (4304 m). Memasuki ketinggian di atas 4000 m kepala kami terasa agak pusing dan napas tersendat-sendat karena oksigen semakin tipis.Dari Dome Du Gouter kami berjalan menurun ke suatu lembah dan naik lagi menuju Vallot di ketinggian 4362 m. Angin masih bertiup kencang menerbangkan salju di puncak Mt.Blanc yang yang sudah terlihat dari pondok itu.

Dengan menu yang sama, sosis bakar dan roti ,kami makan siang di Refuge de Vallot. Menjelang jam 13.00 pendakian dilanjutkan dengan menyusuri ridge (punggungan) Mont Blanc.Mumpung cuaca lagi cerah. Angin makin seru, bertiup amat kencang seakan-akan mendorong kami ke arah cornice (untaian salju di pinggir jurang) yang banyak terdapat di sepanjang Mont Blanc. Jika kurang hati-hati jurang sedalam ratusan meter siap menelan, seperti yang terjadi terhadap 2 pendaki Spanyol beberapa hari sebelum pendakian Kami.

Beberapa menit menjelang puncak kami lihat kabut hitam berarak menuju puncak Mont Blanc dan tentunya ini bukan pertanda baik. “Wah bakalan kejebak lagi nih”, pikir kami saat itu. Akhirnya saat yang bersejarah bagi Stapala tiba. Tepat jam 16.15 kami berhasil mengibarkan sang saka merah putih dan bendera Stapala di puncak Mont Blanc (4800m),puncak tertinggi pegunungan Alpen. Tiga kamera yang kami bawa ke puncak hanya 2 yang berfungsi dengan baik untuk membuat dokumentasi ala kadarnya. Karena Pentax yang satu itu ngadat karena suhu waktu itu minus 1 derajat celcius.Berhubung cuaca makin buruk kami nggak bisa berlama-lama dipuncak untuk bergaya di depan kamera. Hanya dalam waktu 1 jam lebih sedikit kami sudah sampai lagi di pondok Vallot.

Matahari tertutup awan hitam yang terlihat sejak dari puncak , dan angin bertiup semakin meriah seakan-akan nmenyambut keberhasilan kami mencapai atap Eropa,….Alhamdulillah.

Kami nggak mau cari gara-gara untuk terus turun. Keputusannya kami bermalam di pondok Vallot. Sekalian merasakan tidur pada ketinggian 4362m dengan suhu -44 derajat celcius. Saking dinginnya air dalam termos pun keburu membeku saat saya ingin minum.

Besok paginya, senin 20 Juli perjalanan turun dilanjutkan di tengah angin yang bertiup kencang sehingga jalan kami tertunduk-tunduk. Le Nid d’Aigie kami capai sore harinya melalui pondok kecil Baraque Forestiere Des Rosnes (2768m). Jadi nggak lewat gletser Rionassay seperti waktu naik beberapa hari yang lalu.

Dari Le Nid d’Aigie kami terus turun ke Bellevue, les houches dan kembali ke Chamonix. Kami sempat belanja makanan untuk pendakian Matterhorn di Les Houches dengan pertimbangan harga-harga yang lebih murah di banding dengan di Swiss.

Maka berakhirlah pendakian empat hari kami ke atap Eropa. Viva Indonesia..Viva STAN..Viva Stapala.

Jalan-jalan ke Matterhorn

Target mencapai puncak Mont Blanc sudah berhasil dilaksanakan. Tujuan kami selanjutnya adalah Matterhorn. Dengan kereta kami menuju Zermatt (1620), kota terakhir yang bisa dicapai dengan kendaraan.

Sebelum tiba di Zermatt (1620 m) kami harus ganti kereta bergigi di Brig . Perjalanan dari Brig Zermatt dengan kereta bergigi makan waktu 2 jam lebih melalui tebing-tebing terjal dan jurang-jurang curam.Tapi meski tegang pemandangannya indah sekali.

Pagi itu Rabu 22 Juli udara di Zermat cukup cerah tapi angin dingin bertiup terasa menusuk tulang. Zermatt (1620 m) termasuk kota turis yang terkenal di Swiss bagian selatan.

Pagi itu juga setelah menyewa 2 pasang sepatu, pendakian langsung dimulai. Bersama kami banyak turis-turis asing ber hiking ria menuju Schwarzsee (2582 m) atau ke tempat yang lebih tinggi lagi, Hornlihutte (3260 m) yang terletak di kaki tower Matterhorn.Kami sengaja mengambil rute itu untuk mengikuti jalur pendakian  Whymper letika pertama kalinya orang mendaki Matterhorn dua abad silam.

Tiga jam jalan kaki dari Zermatt ke Schwarzsee mengingatkan kami kepada jalan setapak berliku-liku yang menembus hutan pinus di tepi Danau Segara Anak di Gunung Rinjani – Lombok. Bahkan di schwarzsee juga terdapat danau kecil dengan bukit-bukit dan padang rumput yang memang mirip sekali.Hanya saja di Segara Anak dan Gunung Rinjani terasa lebih alamai dan belum terjamah teknologi canggih seperti kereta gantung untuk turis dan pemain ski yang berseliweran beberapa puluh meter di atas kepala kami.

Hanya beristirahat sebentar di Schwarzsee pendakian diteruskan hingga Hornlihutte.Setelah 2 jam mendaki kami tiba dan sepakat untuk bermalam dulu sebelum menuju puncak Matterhorn.Pondok Horlihutte terasa begitu nyaman, mungkin karena badan kami yang benar-benar capek setelah perjalanan panjang beberapa hari ini.

Sejak jam 05.30 subuh kami sudah sarapan dan siap-siap untuk meneruskan pendakian. Barang-barang yang nggak perlu seperti kompor, alat masak, pakaian, dll. Kami tinggalkan di pondok. Masing-masing hanya bawa oneday pack dan tali dynamic 45 meter untuk merayapi tower yang sudah nampak di depan mata.

Lagi-lagi cuaca tidak ramah menyambut kami.Memang sejak kemarin sore menjelang matahari terbenam, hujan salju turun terus menerus hingga pagi. Pemandangan di luar pondok terlihat hanya putih semua. Tower Matterhorn hanya sepertiga terlihat, kabut hitam yang tebal menyembunyikan puncaknya. Selama di sana kami tidak dapat menyaksikan seluruh Matterhorn yang terkenal indah.

Sia-sia menunggu cuaca mebaik akhirnya diputuskan untuk tetap menjajal Towe Matterhorn dalam hujan dan angin yang meriah itu. “Wah..bakalan lebih parah dari Arete Payot Nih,”keluh kami setelah berhadapan dengan toer yang berdiri tegak seperti tembok menjulang setinggi 1000 meter lebih. Di tebing ini kami menemukan beberapa tugu peringatan ( in memorium ) untuk pendaki yang tewas.

Kisah ALpen di muat di Majalah yang ngetop di tahun 80an "Majalah Gadis"

Pendakian di tebing bersalju dengan kemiringan 60 sampai dengant 80 derajat, akhirnya kami mulai juga setelah satu setangah jam merayap  ditengah hujan salju dan angin kami bertemu 2 pendaki Swesia yang turun tergesa-gesa. Mereka sudah mencapai ketinggian 3670m di mana terdapat pondok darurat yang sewaktu-waktu digunakan oleh Tim SAR dari Club Alpin Swiss. Keadaan cuaca di atas yang buruk memaksa mereka untuk turun kembali. Kejadian yang sama kami dengar juga kemarin, ketika 4 pendaki Jepang yang telah berhasil mencapai Savoillahutte (4020 m) tapi harus melupakan impian mereka mencapai puncak Mattherhorn karena cuaca yang taqk ramah, dua orang pendaki solo masing-masing dari Yugoslavia dan Jepang sudah berbailk turun sebelum sampai ke tempat kami waktu itu.

Kami belum menyerah, masih terus merayap ke atas. Tebing terasa semakin licin akibat salju yang turun terus meneru. Jaket, sarung tangan dan barang-barang sudah basah kuyup. Jarin-jari tangan dan kaki terasa membeku di dera cuaca jelek dan suhu yang amat dingin menggigit.Setelah dua jam scrambling, menjelang pondok darurat yang hanya beberapa puluh meter di atas kami, cuaca semakin menjadi-jadi. Medan pendakian jadi amat licin dan berbahaya, setingkat lebih sulit dari Arete Payot.

Dengan sangat terpaksa akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Hornlihutte setelah berdebat cukup lama.Maka buyarlah harapan kami untuk mengikuti jejak Whymper yang menginjakan kaki pertama kali di puncak Matterhorn setelah 4 orang anggota timnya tewas di telan jurang Mattrthorn.

Tower ini memang membuat kami bersusah-susah dan menderita dalam pendakian ke Alpen ini. Hari itu Kamis 23 Juli kami hanya berhasil merayap setinggi 400 lebih tebing Matterhorn yang terjal dan licin itu.

Pada perjalanan turun kami mencoba menggunakan tali untuk menuruni tebing yang hampir tegak lurus (rapperling) sehingga tidak usah merangkak rangkak mencari jalan turun. Lewat tengah hari kami sudah di pondok lagi. Selepas makan siang diputuskan untuk turun ke Zermatt siang itu juga. Maunya sih coba naik lagi besok, tapi dananya pas-pasan tuh !.

Dari Zermatt kami terus ke Brig dan langsung menuju Spiez, kota indah di pinggir danau yang kami capai hampir tengah malam. Terpaksa malam itu tidurdiruang tunggustasiun.Pagi jam 02.00 kami yang lagi asik tidur dipersilahkan keluar oleh petugas stasiun karena ruang tunggu hendak tutup.Apa boleh buat kami pindah ke peron.Karena cuaca terasa amat dingin, tidurpun sudah tidak nyaman lagi. Jadi ya kami tidur-tiduran saja malam itu.Pagi-pagi sempat juga kami mandi ala cowboy setelah beberapa hari nggak mandi.

Dari Spiez kami coba interlokal ke kantor garuda di Zurich untuk menanyakan penerbangan Garuda ke Jakarta sekaligus pesen tempat.Ternayata kami nggak perlu lama-lama menunggu.Sabtu 25 Juli ada flight ke Jakarta dengan Boeing 747 dari Paris.

Pagi jam 10.00 kami sudah dalam kereta menuju Bern untuk lapor KBRI dan mengambil barang-barang titipan kami di sana.Setibanya di KBRI ada kabar gembira, kami diundang untuk bermalam di Wisma Duta BEsar oleh Ibu dan Bapak Hadi Thayeb.

Nyaman sekali rasanya setelah beberapa hari nggak mandi, makan, dan tidur beneran. Ibu Hadi juga memberikan sweater “I Love Bern” sebagai kenang kenangan untuk kami. Terima kasih ya Bu…

Sabtu siang 25 Juli kami diantar hingga ke kereta oleh Pak Hartono. Dan tanpa kesulitan yang b erarti sore hari kami sudah berada dalam boeing 747 garuda yang penuh sesak menuju Jakarta.

Well bye..bye Switzerland…I’ll be back next time..but now I’m goin’ home.

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

One thought on “Stapala Alpen Expedition 1987

  1. Mantab bin kerennn

    Posted by Dosko | January 29, 2011, 5:28 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: