you're reading...
Ekspedisi Luar Negeri

Ekspedisi Carstenz Pyramide Stapala

Ekspedisi Carstenz Pyramide Stapala sudah dirintis sejak 1987. Berkali-kali Stapala gagal memperoleh ijin pendakian. Status Irian Jaya (sekarang Papua) yang masih rawan keamanan memang tidak mudah untuk mendapatkan ijin.

Akhirnya pada tahun 1993,Stapala diberi kesempatan untuk menjajal puncak tertinggi di kawasan Oceania-Australia (4448 m dpl). Segala macam perijinan dapat diperoleh, dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, POLRI, BAKIN, dan lain-lain.Tim Ekspedisi Castenz Pyramide Stapala terdiri dari Johanes Purbowasiso ‘Jo Blontang’ (193/SPA/89),Febra Faturahman ‘Pakde’ (294/SPA/91) sebagai Ketua Ekspedisi, dan Dwi Hermawan ‘Gembung’ (226/SPA/90).

Ekspedisi carstenz Pyramide melanjutkan Ekspedisi Impian Seven Summits yang terakhir ke Kilimanjaro setahun sebelumnya. Ekspedisi mendapatkan support cukup besar dari seluruh anggota Stapala, Lembaga STAN, maupun alumni STAN. Di kota-kota persinggahan seperti  Biak, Jayapura, Nabire, dan Freeport Tim di support oleh para alumni yang berdinas di kota-kota tersebut.

Ekspedisi carstenz Pyramide total memakan waktu 43 hari, termasuk didalamnya 15 hari waktu pendakian/pemanjatan. Sayangnya, Ekspedisi ini gagal mengibarkan bendera Stapala di puncak Carstenz Pyramide. Faktor kelelahan fisik dan mental, serta kondisi cuaca yang sangat buruk menjadi halangan besar. Tim Stapala berhasil mencapai ketinggian 4200 m dpl, beberapa ratus meter sebelum puncak.

Apapun hasilnya, ekspedisi ini memberikan pelajaran besar bagi Stapala bagaimana melaksanakan suatu ekspedisi besar. Sayangnya, pelajaran itu tidak pernah lagi bisa diterapkan. Ekspedisi carstenz adalah ekspedisi gunung es terakhir bagi Stapala. Setidak-tidaknya sampai saat ini….

Cuplikan Catatan perjalanan Tim Ekspedisi Carstenz

Lembah Kuning, Senin 20 September 1993

Pagi sekali, Pk.05.00 WIB, Tim Stapala sudah bersiap untuk memanjat Tebing Carstenz melalui route normal. Gembung,Pakdhe, dan Jo Blontang ditambah Diko (guide) menyiapkan diri untuk pemanjatan pamungkas. Ini adalah hari ke 27 sejak meninggalkan Jakarta.

Pagi ini cuaca cukup cerah, Pakdhe memutuskan untuk hanya membawa makanan ringan, sebagian peralatan, dan air minum. Menurut Pakdhe untuk perjalanan ke puncak tidak perlu peralatan lengkap karena perjalanan ke puncak hanya kira-kira  5 jam. Walau sempat di tentang oleh Blontang, Tim memutuskan untuk mengikuti anjuran Pakdhe.

Pemanjatan ke puncak awalnya sempat salah jalur dan membut Blontang tersangkut di tebing. Badan Blontang yang besar memang kurang luwes dan lambat dalam pemanjatan. Setelah pemanjatan menemukan jalur normal, seluruh tim kemudian dapat melakukan scrambling. Sesekali dilakukan teknik moving togegther, terutama untuk membelay Blontang.Pk.14.00 seluruh tim tiba di teras besar.Secara mengejutkan, Diko (guide) mengatakan bahwa ini adalah tempat tertinggi yang pernah dicapainya. Jadi dia belum pernah sampai ke Puncak carstenz. Padalah teras besar baru setengah dari seluruh tebing yang harus dipanjat menuju puncak Carstenz.Altimeter Blontang menunjukan ketinggian 4200 mdpl. Teras besar mempunyai kemiringan 45 derajat.

Perjalanan kemudian dilanjutkan. Lereng menuju gigir puncak merupakan jalur kerikil yang sangt licin. Bila diinjak langsung merosot. Tim Stapala hampir 1 jam melalui jalur kerikil ini. Ketika tiba di gigir atas, Tim menemukan celah sedalam 3 meter yang dapat dilalui secara cepat dengan repling.

“Tali dibawa nggak ?” tanya Blontang sambil melanjutkan perjalanan.

“Nggak usah, kan tidak ada celah lagi setelah dari sini, Kita akan langsung sampai Puncak !” jawab Pakdhe.

Walau agak dongkol, Blontang  mengikuti saran Pakde. Baru berjalan 100 meter, terjawablah apa yang diperdebatkan Pakde dan Blontang. Terbentang celah lebar dan dalam seperti yang dikuatirkan Blontang. Bahkan lebih lebar dan dalam. Celah di sebarang tampak blank alias polos seperti tembok. Gembung dan Pakde duduk terdiam. Bingung mau ngapain. Sejenak suasana terasa sunyi.

“Terus gimana nih,” ? Tanya Blontang memecah kesunyian.

Tim kemudian diskusi bagaimana melintasi celah tersebut. Di sisi selatan tebing tampak tali webing yang diikatkan pada paku tebing. Untuk melintasi celah disepakati untuk turun repling dulu, kemudian traversing 5 meter di dinding bagian selatan.Kemudian baru naik ke atas.

Blontang menyarankan untuk menunda perjalanan dan turun kembali lembah kuning. Waktu menunjukan pukul 16.00 WIB . Langit berkabut tebal. Tim tidak  siap untuk menginap di perjalanan, apabila pemanjatan dilanjutkan. Pakde memutuskan untuk mengikuti saran Blontang. Resiko terlalu besar bila pmanjatan dilanjutkan.

Pada saat perjalanan turun ke lembah kuning, turun hujan yang disertai es. Perjalanan di malam hari yang hanya ditemani satu senter cukup merepotkan. Diko sempat tidak bersedia untuk repling karena takut. Beruntung, akhirnya tim tiba di lembah kuning dengan selamat. Waktu menunjukan pukul 02.00 WIT. Kondisi tim sangat lelah dan kedinginan.

Lembah Kuning, Selasa 21 September 2009.

Bersama para Porter

Pagi-pagi sekali Diko membangunkan dengan berteriak-teriak. Katanya, ada 2 orang porter sakit sehingga beberapa dari mereka panik dan ingin turun segera. Terlebih bahan makanan porter, ubi, telah habis.Walau dijanjikan untuk dicarikan bahan makanan, mereka tetap ingin turun. Setelah berdebat ramai dalam bahasa Dani (yang direkan Gembung), akhirnya empat orang yaitu Diko, Simion, lari, dan Arikinggen tetap tinggal, sedangkan yang sisanya langsung pulang.

Pakdhe berinisiatif turun ke freeport untuk menanyakan masalah ijin pendakian,membeli bahan makanan, dan mencari solusi porter. Freeport membantu membelikan ubi untuk para porter yang tinggal. Sementara Diko diperintahkan unutk mencari tambahan porter. Blontang dan Gembung memanfaatkan waktu untuk beristirahat di Lembah Kuning. Pakde kembali dari freeport sekitar pukul 17.00 WIT.

Lembah Kuning, Rabu 22 September 1993.

Tim sebetulnya siap untuk pemanjatan yang kedua. Tapi cuaca tampak sangat tidak bersahabat. Langit gelap dan hujan gerimis. Sambil menunggu cuaca membaik, Tim mendiskusikan kembali strategi melintasi celah. Tidak lupa juga mendiskusikan waktu pemanjatan yang tinggal 2 hari lagi dan alternatif mendapatkan porter. Banyak permasalahan yang mungkin timbul.

Pukul 10.05 Diko mengabarkan bahwa ia berhasil mendapatkan tambahan porter. Ada tujuh orang perter yang siap membawakan perlengkapan pendakian turun ke Ilaga.

Sampai dengan sore hari cuaca tidak bertambah baik. Hujan terus turun membasahi Lembah Kuning. Pemanjatan diputuskan ditunda sampai dengan keesokan harinya. Malam harinya cahaya petir berungkali menerangi langit gelap. Pakde tidur dengan menggigil kedinginan, sempat membuat kuatir tim.

Lembah Kuning, Kamis 23 September 2009

Tim kembali bersiap untuk pemanjatan ke Puncak Carstenz. Cuaca terang dan bersih tanpa awan. Udara terasa hangat dan tidak ada angin. Cuaca yang sangat bersahabat, memotivasi tim untuk kembali berjuang ke puncak.

Kali ini Tim membawa seluruh perlengkapan : peralatan pemanjatan,tenda, makanan, air, sleeping bag, Handy Talky, dan lampu senter. Semua di pack dalam satu ransel. Pukul 07.00 WIT tim memulai pemanjatan. Gembung sebagai leader berjalan lebih dahulu. Ketika tiba dibawah tebing, Pakde tampak kelelahan. Kondisi fisiknya memang tampak sudah drop. Blontang menggantikan membawa ransel. Pakde membawa daypack Blontang. Dengan ascender, Blontang naik terakhir.

Ketika Blontang sampai diujung tali kedua (hampir 100 meter) hujan turun dengan derasnya Dan ketika tali selesai digulung, hujan air berubah menjadi Hujan es. Nikmatnya hujan es di alami cukup lama, sebelum akhirnya berubah menjadi hujan salju kembali. Cuaca yang terus memburuk betul betul mengkuatirkan Tim.

“Kita buka tenda aja ya ?!,” Ujar Pakde setengah bertanya.

“Wah bahaya kalau badai !,” kata Blontang dan Gembung hampir serempak.

Hujan salju kembali berubah menjadi hujan es. Tim yang memakai jas hujan mulai menggigil kedinginan. Gembung mengusulkan untuk turun dan tidak melanjutkan pemanjatan. Cuaca begitu buruk. Awan gelap menutup langit. Petir menggelegar bergantian. Badai memang tampaknya akan segera datang. Di atas langit Freeport kelihatan awan begitu gelap.

Akhirnya keputusan disepakati. Tim Stapala tidak melanjutkan pemanjatan. Artinya, pemanjatan dinding utara puncak Carstenz gagal.  Pemanjatan tidak dapat di teruskan karena besok harus sudah berjalan ke Ilaga agar tidak tertinggal pesawat di hari Rabu minggu depan. Tim tiba kembali ke tenda Pk.16.00 WIT dalam keadaan lesu dan diguyur hujan.

(Disarikan dari Laporan Ekspedisi Carstenz Pyramide Stapala 1993 )

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: