you're reading...
Ekspedisi Luar Negeri

EKSPEDISI GARUDA STAPALA MT COOK 1990

Stapala STAN­ Prodip Keuangan beraksi kembali, kali ini  High Peak Mt Cook (3764 M) di Selandia Baru menjadi targetnya.

Berkat dukungan Garuda Indonesia, Mingguan Olahraga BOLA, Senat Mahasiswa, dan Dwi Mingguan MODE Indonesia, kami berhasil mengirim 3 pendaki dari 4 yang direncanakan. Mereka adalah Doddy T.Wijaya, mahasiswa tk IX spesialisasi Akuntansi (STAN), Yudhi D. Nauly, mahasiswa tk II Program Diploma Keuangan spesialisasi Bea, dan Cukai, dan Panca Kurniawan, mahasiswa tk III Program Diploma Keuangan spesialisasi Pajak Bumi dan Bangunan, yang juga bertindak sebagai ketua tim ekspedisi.

Ekspedisi Mt. Cook berlangsung sejak 24 Desember 1990 hingga 5 Januari 1991 lalu.Bagi Stapala dan Doddy, pendakian gunung bersaiju ini adalah petualangan yang kedua kalinya, setelah tahun 1987 berhasil menggapai puncak Mont Blanc (4870 m), yang merupakan puncak tertinggi di Eropa Barat, dan menjajal Matterhorn (4478 m) di Swiss. Inilah kisah penggapaian puncak High Peak – Mt. Cook (3764 m), yang merupakan puncak tertinggi diPegunungan Alpen Selatan.

Dengan pesawat Garu­da Indonesia, GA 866 kami meninggalkan ta­nah air, 24 Desember 1990, jam 19.15 dengan tujuan Auckland, Selandia Baru. Repot sekali mengangkut barang bawaan kami yang 9 koli (tas, red). Berun­tung, tim penjemput dari IMASI (IkatanMasyarakat Indonesiadi Selandia Baru) telah menunggu kedatangan kami di ruang tunggu, sehingga kami tidak perlu menyewa kendaraan untuk membawa barang bawaan yang  seabrek-abrek itu.Perjalanan yang menghabiskan waktu 81/2 jam menuju Aucland membuat badan kami penat. Kami memutuskar istirahat sampai keesokan harinya, 26 Desember 1990.

Kamis, 27 Desember 1990

Pagi-pagi sekali kami diantar Mas Herry (Ketua IMASI) ke ban­dara untuk mengejar thrifty ticket/ tiket hemat, yang harganya jauh lebih murah, namun waktu ke­berangkatan ditentukan oleh kosongnya tempat duduk. Jam 12.10 pesawat take off menuju Christchurch, setelah hampir 4 jam kami menunggu untuk thrifty ticket tersebut. Setiba di Christchurch, kami langsung memesan tiket bis ke Mt Cook Village melalui telpone umum untuk keberangkatan ke­esokan hari. Di sini kami sekalian menambah referensi tentang jalur-jalur pendakian di Mt Cook.

Cuaca Di Mt. Cook Village

Doddy T.WIjaya di Puncak Mt.Cook

Cuaca buruk menyambut kedatangan kami di Mt. Cook Village (760 m), Sabtu, 28 Desember 1990. Kabut tebal menyelimuti peman­dangan di sekeliling kami. Menurut laporan dari National Park Headquarter, sudah hampir seminggu cuaca di pegunungan Alpen Selatan sering dilanda badai. Kami juga memperoleh in­formasi bahwa 30 orang pendaki gunung yang akan mendaki Mt Cook di Plateau Hut masih ter­tahan. Hari ini lagi-lagi dengan prinsip Melayu kami menginap di Public Shelter yang kebetulan tidak di kunci. “Lumayan gratis, kita jadi bisa ngirit ongkos lagi”, tutur Panca. Tapi kita pun harus siap angkat kaki, bila diusir oleh ranger/penjaga, karena tidur di sini sebetulnya dilarang.

Keesokan harinya, kami be­nar-benar sulit bergerak. Huian turun dari pagi, kabut pun masih menyelimuti puncak-puncak yang nampak dari Mt Cook Village, di­sertai angin yang menambah dinginnya suhu yang saat ini mencapai 5 derajat Celcius. Men­jelang sore, hujan mulai reda, dan kami segera melihat papan pengumuman mengenai ramal­an cuaca esok hari di National Park Headquarter. Menurut ra­malan, cuaca akan membaik. Maka kami segera mendaftarkan diri untuk memasuki kawasan Mt. Cook di kantor tersebut.Setelah itu kami menuju Alpine Guide untuk menyewa perleng­kapan dan peralatan yang dibu­tuhkan. Alpine Guide adalah se­buah toko yang melayani penye­waan perlengkapan dan peralat­an untuk mendaki gunung salju, juga melayani jasa guiding bagi para petualang yang akan men­daki di Southern Alps.

Di sini kami sempat berbin­cang-bincang dengan Rob Hall, seorang pendaki Selandia Baru yang baru saja menyelesaikan pendakian 7 puncak tertinggi di 7 benua, dalam waktu 7 bulan. Rob banyak memberikan masukan kepada kami tentang karakteris­tik Mt Cook. Ternyata kesempatan kami untuk mendaki Mt Cook pada tanggal 30 Desember 1990 masih tertutup juga. Tidak ada pesawat yang akan berangkat menuju Grand Plateau. Meski cuaca agak cerah tapi angin tetap terlalu kencang, sehingga pesawat tidak dapat mendarat di hamparan salju Grand Plateau. Konfirmasi ini kami peroleh sete­lah beberapa kali kami menghu­bungi Mt Cook Airline melalui tel­pon. Malah hujan turun lagi men­jelang siang hingga sore hari. Cuaca benar-benar sulit diramal­kan.

Menuju Grand Plateau.

Senin, 31 Desember 1990, kami benar-benar sial. Walaupun cuaca cerah, tapi kami tetap untuk sementara tidak dapat berangkat menuju Grand Plateau. Kali ini penyebabnya bukan soal cuaca tetapi karena terjadi kesalah pahaman antara kami dan pihak Mt. Cook Airline. Sebenarnya kami telah memesan pesawat Cessna untuk tujuan Grand Pla­teau, namun perusahaan tersebut menyatakan bahwa tujuan kami ke Tasman Glacier. Kami benar-benar merasa kesal akan pelayanan tersebut, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi, pikir kami.

Kejadian ini memaksa kami untuk menyewa helikopter, yang sewanya NZ$ 605 atau 4 kali lipat tarip pesawat, ini pun baru bisa berangkat pukul 14.20.Helikopter lepas landas dari hamparan padang rumput yang Terletak satu km dari Mt.Cook Village. Dari udara kami dapat melihat jajaran Southern Alps yang memukau, saat melintas di atas­nya.

Yudhi Dharma Nauly, di Puncak Mt.Cook

Sesampai di Grand Plateau, kami masih harus berjalan kaki melintasi salju menuju Plateau Hut. Perjalanan ini kami manfaat­kan pula untuk belajar berjalan di salju dengan sepatu double boots clan crampoonlcakar es dengan ice axe/ kapak es di ta­ngan, terutama buat Panca dan Yudhi yang baru pertama kali merasakan medan es. “Alamak, jalan berat banget”, keluh Yudhi.

Dari padang salju Grand Pla­teau, kami memang memutus­kan untuk beristirahat terlebih dahulu di Plateau Hut, karena saat itu salju masih lembek dan kami masih butuh beradaptasi dengan medan yang bakal diha­dapi.

Untuk mencapai Plateau Hut yang terlihat jelas dari posisi kami, dibutuhkan waktu 20 menit. Bagaimana dengan ke puncak yang masih terlihat jauh dari sini, pikir kami. Plateau hut (2100 m) ialah pondok pendaki yang memiliki 2 kamar dengan 30 tempat tidur dan dilengkapi fasili­tas peralatan memasak dan pe­nerangan, serta radio komunika­si yang menghubungkan ke National Park.

Di hut kami banyak berdiskusi mengenai rute yang akan kami lewati kelak dengan para penda­ki yang pernah menggapai Mt Cook. Waktu menunjukkan pukul 23.30, saat Doddy mulai beran­jak dari tidurnya, cuaca saat itu cerah, walaupun temperatur menunjukkan angka 3 derajat Celcius. Kami segera berkemas-kemas untuk mengepak barang seefisien mungkin, kalau ditim­bang bawaan kami masing-ma­sing 20 kg-an.

Memulai Pendakian

Salju masih keras, saat kami memulai perjalan­an menuju Linda Gla­cier, pukul 02.00 dinihari, 1 Januari 1991. Dari kejauhan sekali-kali terdengar deru avalanche, longsoran salju yang suaranya mirip dinamit yang dile­dakkan di perbukitan kapur Ciampea, Bogor. Kami dihu­bungkan dengan seutas tali/ moving together satu lama lain, karena Linda Glacier yang kami lalui merupakan ladang crea­vasse/jurang es, sehingga bila salah seorang dari kami terpe­rosok kami masih dapat meng­amankannya.

Di sana-sini jurang salju me­nganga lebar, kami harus ekstra hati-hati untuk menghindari jurang es, kadang-kadang kami melompati jurang es yang masih terjangkau dengan langkah kami. Jika jurang terlalu lebar, kami terpaksa memilih jalan memutar, guna meneruskan pen­dakian. Dua jam telah kami lalui, sementara altimeter/alat pe­nunjuk ketinggian tempat menunjukkan angka 2400.

Perjalanan selanjutnya mulai agak berat. Tanjakan sudah mulai agak menajam, dengan kemiringan antara 40-70 dera­jat. Melihat jalan di sini seperti tak ada ujung ujungnya  saja. Sementara kabut masih menutupi puncak Mt. Cook.

Salju sudah mulai lembek, karena matahari telah bersinar, sementara medan masih menan­jak terus, disertai angin yang berhembus dari puncak ke arah kami.Di ketinggian 3000 m kami ber­jumpa dengan Rob Hall dan 3 orang rekannya yang baru saja turun dari Rock Summit. Mereka tidak dapat menggapai puncak, karena angin yang terlalu ken­cang. Di situ Rob memberitahu kami tempat yang aman untuk mendirikan tenda, serta jalur menuju puncak.

Panca Kurniawan

Di ketinggian ini, kami memu­tuskan untuk menghentikan pen­dakian hari ini, dan segera menu­ju sebuah bukit es yang ditunjuk oleh Rob untuk berlindung. Kon­disi cuaca semakin memburuk, di langit awan hitam nampak de­ngan jelas, ini menandakan badai akan turun. Padahal menurut ramalan cuaca yang di­terima dari Mt Cook National Park-headquarter, sebelum kami ber­angkat menyebutkan bahwa cuaca baik dlan hanya angin saja yang sekali-kali berhembus. Kenyataan di lapangan yang dihadapi memang berbeda.

Angin saat itu benar benar sangat kencang, sementara ke­mungkinan turunnya hujan salju sudah mulai nampak pula. Angin terus menerpa, saat kami menuju bukit tersebut. Sempat juga kami bingung di mana kira-kira tempat yang tepat seperti yang dimaksudkan Rob, karena di balik bukit, ternyata ada sebuah jurang lebar.Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba mendirikan ten­da di antara bukit dengan tebing batu yang diselimuti salju. Mung­kin ini tempat yang dimaksudkan Rob, pikir kami. Angin terus berhembus dengan kencang tanpa mengenal kompromi. Sulit bagi kami untuk mendirikan ten­da dome, sudah tiga kali kami mencoba, namun selalu gagal. Malah sempat angin yang berhembus dengan kencang membuat tenda kami terbang saat akan didirikan, untungnya Doddy sempat mengejar tenda tersebut.

Nyaris Tewas di Goa Es.

Beruntung juga nasib kami, ternyata sebuah gua es sisa-sisa dari pendakian terdahulu terdapat di bawah bukit tersebut. Setelah kami melihat sekilas keadaan gua, yang ternyata laik huni, tanpa ba… bi… bu… lagi kami segera mengungsi ke goa es. Sebagian perlengkapan turut pula masuk ke gua, yang tinggi atapnya kira­kira 75 cm, jadi untuk masuk ke gua es harus tiarap/merangkak. Siang itu, kami makan dengan lahap di gua, hanya Panca saja yang mogok makan, karena pe­rutnya terasa mual dan kepala­nya mulai terasa pening pusing-pusing, akibat mountain sickness. Sementara suhu terus turun dari 4 derajat Celcius hingga –2 derajat Celcius.

Praktis selama di gua kami hanya dapat berbaring saja. Buat kami bertiga saja gua ini terlalu sempit apalagi untuk melakukan aktivitas. Sementara cuaca di luar terus memburuk. Hujan salju turun dengan lebat, membuat temperatur menjadi semakin dingin.

Suhu terus beranjak turun hingga –10 derajat Celcius pada jam 21.30. Hampir dua belas jam lebih kami terkurung di gua ini, rasanya seperti dimasukkan cold storage/lemari pendingin. Saat itu Panca mulai merasakan sesak napas. Mulut gua telah ter­tutup butiran-butiran hujan salju.

Kami tidak menyadari, sudah berapa jam pintu gua itu tertutup. Kami memang mulai merasakan mual-mual dan sesak napas aki­bat oksigen yang semakin meni­pis. Stres menghinggapi kami saat itu, fatal akibatnya jika kami tidak dapat menjebol mulut gua, mungkin hanya nama saja yang bakal pulang ke tanah air.

Usaha penyelamatan untuk menjebol pintu gua itu memakan waktu setengah jam lebih, saat pertama Panca berusaha de­ngan nesting/panci menggali sal­ju. Pekerjaan ini kemudian dilan­jutkan Yudhi dan Doddy dengan menggunakan ice axe/kayak es.

Sempat pula Yudhi berteriak: “Tarik-tarik, badan gue,” karena saat itu ia merasakan sulitnya bernapas. Usaha ini kami laku­kan sambil bertiarap, karena unt­uk duduk di dekat mulut gua sudah tidak memungkinkan, aki­bat salju yang tebal. Alhamdulil­lah, akhirnya Doddy berhasil menjebol mulut gua tersebut. Sungguh suatu kecerobohan yang tak akan kami ulang lagi.

Hujan salju masih turun, saat mulut gua terbuka, kepala kami bertiga bergantian menghirup udara yang segar di luar, meski cuaca masih tidak bersahabat. Pergelangan tangan dan kaki terasa beku, terutama pada ta­ngan, karena kami tidak meng­gunakan glove/sarung tangan saat menjebol mulut gua.

Pukul 12 lewat tengah malam atau hampir 1 jam lebih terkurung di gua, akhirnya kami dapat men­dirikan tenda, di tengah-tengah rintiknya hujan salju, ini dimung­kinkan karena angin sudah mulai mereda.

Pagi hari, Rabu, 2 Januari 1991, matahari mulai bersinar cerah, tapi pendakian tidak dapat terus dilanjutkan mengingat ba­rang-barang yang terdapat di luar tertimbun salju sedalam setengah meter. Selain itu banyak pula perlengkapan kami yang basah, belum lagi salju yang sangat lembek, bila diinjak sebetis lebih tingginya. Peralat­an yang basah kami jemur di sekeliling tenda.

Selama masa ini praktis tidak ada seorang pun yang melewati tenda kami menuju puncak Mt Cook.

Perjalanan ke Puncak

Pukul 05.00 dinihari, Doddy dan Yudhi telah bersiap-siap untuk me­lanjutkan perjalanan menuju puncak. Suhu saat itu menunjuk­kan 0 derajat Celcius, cuaca cerah sekali. Sementara Panca yang kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi ditinggal di tenda, sambil memonitor tim yang menuju ke puncak melalui handy talky.

Pada rute yang kami lalui, meski salju agak keras, namun bila diinjak masih tetap setinggi betis. Hampir 5 jam telah dilalui, dan kami telah mencapai pung­gungan/ridge yang merupakan ujung dari Linda Glacier. Ridge ini juga merupakan ujung dari Zurbiggen Ridge yang membentang dari Grand Plateau hingga puncak Mt Cook. Rute Zurbiggen merupakan salah satu rute tersu­lit yang terdapat di Mt Cook.

Di sini kami berdua menyempatkan diri untuk beristirahat se­jenak, sambil memonitor ke­adaan Panca di tenda bawah. Bersama kami terdapat 2 orang pendaki Jerman yang memulai perjalanannya sejak tengah malam dari Hut, sementara 4 pendaki lain yang berangkat ber­sama mereka memutuskan un­tuk turun kembali menuju Hut. Ketinggian yang dicapai saat ini sudah 3600 m, berarti sedikit lagi puncak itu akan kami raih.

Biskuit dan sari jeruk menjadi santapan kami, selama istirahat seperempat jam lebih. Peman­dangan yang terlihat dari sini in­dah sekali, Tasman Glacier yang merupakan galcier/sungai es ter­panjang di dunia nampak jelas dari sini.

Hampir satu jam kami telah meneruskan pendakian. Semen­tara dua orang pendaki Jerman memutuskan untuk kembali me­nuju Hut sebelum mereka men­capai puncak Mt Cook, karena angin yang bertiup saat itu mulai kencang. Kami memutuskan un­tuk menunggu hingga angin re­da, lumayan juga hitung-hitung sambil beristirahat sejenak.

Rute yang akan kami lewati selanjutnya merupakan rute yang tersulit dalam pendakian ini, tebing batu yang tidak terlalu curam dan tebing es setinggi 40 meter merupakan santapan ka­mi. Untuk mempercepat peman­jatan, pada saat memanjat din-ding es (ice climbing), kami tidak menggunakan ice screw (paku es) yang kami beli di Alpine Guide, mengingat waktu dan tenaga yang sudah terkuras. Doddy bertindak sebagai leader/ orang pertama, sementaraYudhi menjadi belayer. Kami harus berhati-hati dalam pemanjatan Binding es, karena jika terjatuh 2000 m di bawah sana Grand Plateau siap menelan kami.

Pulang ke Tanah Air (Bandara Sukarno Hatta)

Tepat pukul 14.45, 3 Januari 1991, Doddy dan Yudhi telah ber­diri di puncak Mt Cook (3764 m). Sambil menyanyikan lagu In­donesia Raya, kami kibarkan pula Bendera Merah Putih yang diikatkan pada salah satu ice axe. Ya, hari ini kami telah meng­angkat tinggi-tinggi ice axe itu, sebuah kemenangan telah kami raih lagi. Viva Stapala … Viva In­donesia. (TIM )

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: