you're reading...
Perjalanan

Mereka adalah orang-orang yang tangguh

Berikut wawancara Ekpedisi Lauser 2007 bersama Pimpinan pendakian : Jadmiko “Jaed” (780/SPA/2004)

Tanya

Tantangan terberat Ekspedisi Lauser ?

Jawab

Tantangan terberat dalam ekspedisi, menurut saya, adalah masalah semangat. Terutama ketika panitia belum memutuskan siapa anggota yang akan berangkat. Ketika panitia belum memutuskan apakah ekspedisi akan diteruskan atau tidak. Ketika semangat para calon atlet mengendur. Ketika kepedulian terhadap program bersama seakan luntur.

Saya yang sebetulnya panitia Ekspedisi memutuskan akan menjadi atlet sendiri. Saya harus menggerakan semangat Saya agar bisa menggerakan orang lain.Saya mulai dengan menulis di diari Stapala, pernyataan bahwa saya dengan sungguh-sungguh mencalonkan diri sebagai atlet Leuser.

Tantangan berikutnya adalah memaksa diri sendiri dan kawan-kawan calon atlet untuk berlatih. Sungguh berat ketika kita berlatih tanpa tahu apakah kita akan berangkat atau tidak. Saya mempunyai kaos oblong kumal warna putih yang sudah tidak putih lagi. Untuk menyemangati diri saya sendiri, saya menulisinya menggunakan spidol besar: “ATLET LEUSER in process”. Dengan kaos ini, saya lari-lari mengelilingi kampus.

Tanya

Apa sih mendorong team mengadakan ekspedisi Lauser ?

Jawab

Proyek Leuser sebenarnya sudah direncanakan sejak periode sebelumnya. Rencana kami, Leuser akan menjadi suatu batu loncatan dan penanda bahwa kegiatan pendakian extreme Stapala akan bangkit. Setelah satu dekade lebih pendakian gunung-gunung es berlalu, Stapala belum mengirimkan atletnya untuk mencicipi puncak-puncak gunung es. Harapan kami, agar setelah ini semangat untuk pendakian gunung-gunung ekstrem lain akan muncul. Jujur, alasan yang mendorong kami memilih Leuser, banyak dipengaruhi kepedulian Bang Febra “Pakdhe”. Beliau yang kebetulan saat itu bertugas di Kantor Bea Cukai Sabang, sangat intens menyemangati kami untuk mengadakan ekspedisi Leuser. Bahkan beliau sendiri melakukan survey untuk mencari info yang lebih akurat. Semangat beliau itulah yang mendorong kami untuk terus maju. Masa’ senior yang sudah tidak dikampus bersemangat, kami yang di kampus malah loyo??

Tanya

Kenangan paling berkesan ?

Jawab

Masih terekam jelas, Ekspedisi Leuser bertepatan dengan libur kuliah. Untuk saya yang tingkat tiga, saya terpaksa tidak mengikuti yudisium (yudisium diwakili Irwansyah “Gatot” Setia Negara yang mengaku bernama Jatmiko, hahaha). Sedangkan bagi rekan tim yang lain, yang tingkat dua merupakan waktu yang mendebarkan untuk mendengar pengumuman apakah mereka lulus dan naik ke tingkat tiga atau sebaliknya. Momok paling menakutkan bagi mahasiswa STAN. Drop Out.

Saat itu, pendakian memasuki hari ke-12 dan tim berada di Puncak Loser. Kami mendapatkan informasi, salah seorang dari team Kami, Arsi Aditya “V-Jay”, drop out. Walau sempat kuatir, ternyata V-Jay adalah pria tangguh. Beberapa bulan kemudian ia diterima di Akademi Imigrasi.

Kenangan satu lagi adalah dan yang membuat tak terlupakan adalah ketika pendakian telah selesai dan Saya harus secepatnya kembali ke Jakarta untuk mengikuti prosesi wisuda. Saya baru bertemu dengan kedua orang tua pada jam 3 pagi (orang tua Saya tidak bisa tidur), untuk kemudian berangkat menuju wisuda jam setengah 6 pagi. Luar biasa.

Tanya

Apa arti kawan satu team buat Kamu ?

Jawab

Bagi saya pribadi, kawan-kawan satu tim adalah satu saudara. Kami tiap malam tidur bersama dalam satu tenda. Dan percayalah, ketika anda tidur satu tenda bersama seseorang di malam yang dingin sementara angin badai menderu-deru di luar, anda akan menemukan seorang kawan yang akan bercerita dari hati ke hati.Mereka adalah orang-orang yang tangguh. Dan anda pun akan menemukan diri anda yang sebenarnya di dinginnya gunung.

Tanya

Bagaimana Support yang Kamu terima ketika pendakian ?

Jawab

Support yang yang kami terima sangat luarbiasa! Dari kawan-kawan pengurus BPH. Dari senior-senior Stapala. Luar biasa.

Tanya

Ada hal lain yang menarik ?

Jawab

Ketika Kami mencapai yang dinamakan puncak Lauser (menurut Pak Ali Guide), Kami memperhatikan ada puncak satu lagi itu terpisah oleh suatu jurang terjal dengan tempat kami berdiri. Kami tidak bisa memastikan mana puncak sebenarnya karena peta dan GPS tertinggal di tenda.

Ketika sore harinya di cek, Ya Tuhan, benar. Hari itu kami hanya mendapat puncak palsu. Puncak sejati adalah yang di sebelah barat dari puncak yang kami daki. Dalam lelah dan penat kami rapat. Kami memutuskan untuk kembali mendaki puncak esok harinya.Bukan keberanian tanpa akal sehat yang kami lakukan. Namun keberanian dengan perhitungan cermat. Mendaki ke puncak sekali lagi adalah keputusan kami. Puncak sejati Gunung Lauser.

Hanya berkat rahmat Tuhan Yang Maha Pemurah-lah kami bisa mencapai puncak sejati keesokan harinya dan sampai di bawah lagi lima hari kemudian.

8. Tim Ekspedisi Leuser

  1. Jatmiko Edhi Suminar “Jaed”                        780 spa 2004
  2. Reza Dias “Reman”                                       793 spa 2006
  3. Naratama Hermawan                                     795 spa 2006
  4. Arsi Aditya “V-Jay”                                      796 spa 2006
  5. Dwi Udiktya Pranowo Sapto            “Udik”                        788 spa 2006
  6. Sebastian Napitupulu “Kadal”                      789 spa 2006

Semoga bermanfaat dan dapat membantu.

Warm regard

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

One thought on “Mereka adalah orang-orang yang tangguh

  1. LUARBIASA!!!

    Posted by doyok | December 24, 2010, 2:24 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: