you're reading...
Keanggotaan

Bhineka Tunggal Stapala dan Status Ikatan Dinas

Stapala seperti halnya mahasiswa STAN secara umum adalah berasal dari seluruh pelosok penjuru Indonesia. Ini kekayaan Stapala sekaligus keunikan tersendiri.

Di posko Stapala segala etnis, agama, dan spesialisasi (jurusan) bergabung dan berbaur. Banyak kalangan menyatakan bahwa Stapala lah yang bisa menjaga kebhinekaan STAN tanpa memandang SARA. Tidak jarang posko di posko Stapala terdengar dialek Jawa Timuran, dialek Sunda, Betawi, Banyumas an, Palembang, Padang, Batak, atau Makasar, Bali. Tidak ada perbedaan diantara anak Stapala. Bermacam ragam kesukuan yang ada di Stapala sangat membantu ketika melakukan kegiatan-kegiatan di daerah tertentu. “ Kalau makan di warung jadi lebih murah”, ujar  Difai (184/SPA/89).

Anak STAN bisa ekspedisi sampai ke Mt.Cook, New Zealand? Pertanyaan yang tersimpan dibanyak aktivis pencinta alam ketika Stapala sukses melakukan pendakian ke negeri pinguin akhir tahun 1990. Mahasiswa STAN, dibenak mereka, adalah mahasiswa-mahasiswa kutu buku, kebanyakan dari daerah-daerah udik , dan kehidupannya Cuma belajar doang. Tidak terlalu salah pendapat tersebut, kondisi Kampus STAN dan status mahasiswa ikatan dinas memang sangat berpengaruh terhadap organisasi STAPALA. Tentu saja pengaruhnya plus minus.

Sebagai mahasiswa STAN, anggota Stapala tentu juga harus menyandang status mahasiswa ikatan dinas. Banyak hal yang membuat status tersebut sangat berdampak pada roda organisasi. Pertama, sebagai mahasiswa ikatan dinas diploma tiga (D3) masa aktif anggota Stapala sangat terbatas. Kalau langsung menjadi anggota Stapala di tingkat I, maka paling banter akan aktif selama 2,5 tahun. Banyak anggota stapala yang baru tertarik mengikuti diklat stapala di tingkat II atau III, tentu saja masa aktifnya akan lebih pendek lagi.  Setelah lulus D3 mereka akan langsung menjalankan ikatan dinasnya yang tersebar di seluruh pelosok sabang sampai dengan Maerauke. Praktis tidak mungkin bisa aktif secara langsung lagi.

Tersebarnya anggota Stapala setelah lulus kuliah sekaligus merupakan nilai plus yang jarang ditemui di organisasi Pencinta Alam lainnya. Anggota Stapala saat ini hampir terdapat di seluruh kabupaten di seluruh Indonesia. Tentu saja kondisi ini mempermudah kegiatan-kegiatan perjalanan yang biasa dilakukan anggota aktif. Contoh terakhir adalah ekspedisi Pendakian Gunung Lauser di Aceh (2007) yang sangat terbantu oleh keberadaan alumni di Medan dan Banda Aceh. Juga pada ekspedisi Carstenz (1993) sangat terbantu oleh keberadaan alumni di Jayapura dan Biak.

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: