you're reading...
Dari Masa ke Masa

Deklarasi STAPALA di Kampus STAN (Masa Perintisan)

Gede 201

Pendakian Gunung Pangrango, 24 Nop 1979

Pada masa akhir tahun 70-an kegiatan mahasiswa di Jakarta sangat semarak karena situasi dan kondisi saat itu yang sangat dinamis. Mahasiswa giat berdemo dengan menggunakan wadah organisasi-organisasi mahasiswa intra maupun ekstra kampus. Kegiatan-kegiatan mahasiswa lainnya seperti musik, teater, olahraga juga sedang giat-giatnya.

Kondisi ekternal kampus STAN tersebut berpengaruh juga pada kehidupan Kampus STAN yang dinamis. Mahasiswa STAN, walaupun sebagai mahasiswa ikatan dinas, mereka tetap berpartisipasi kegiatan-kegiatan ekstra seperti mengikuti kegiatan gerak jalan, sepakbola,pentas musik, lintas alam dan lain-lain. Periode saat itu adalah masa peralihan dari mahasiswa Institut Ilmu Keuangan (IIK) menjadi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).Kampus STAN berada di Jl. Purnawarman 99 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.Daerah yang cukup elit, tidak jauh dari pusat perbelanjaan Blok M.

stapalapendiri

Pendakian Gunung Gede

Kegiatan alam bebas seperti mendaki gunung awalnya adalah salah satu kegiatan refreshing diluar kegiatan belajar yang cukup padat. Beberapa mahasiswa yang yang hobby mendaki gunung berusaha mengajak beberapa teman-teman sekelas untuk melakukan perjalanan di alam bebas. dilakukan oleh beberapa mahasiswa. “Saya biasanya jalan bersama Warnedy karena Kita sekelas”, Kisah Ilham (004/SPA/79). Kegiatan awalnya hanya mengatasnamakan kelas. Belum terorganisir dengan baik dan bersifat spontan. Belum ada yang namanya kelompok Pencinta Alam. Sebelum tahun 1979 belum ada kelompok Pencinta Alam di kampus, apapun namanya. “Sampai dengan Tahun 1979 Saya nggak pernah denger atau ngeliat adanya kegiatan masal pendakian gunung atau kegiatan yang terorganisi.Apalagi dengan sebutan kegiatan STAPALA. Saya yakin ini karena Saya termasuk anak tongkrongan kantin.Saya ikut Tim Volley, Saya juga ikut Tim Tennis, dan Saya juga rutin nge Truf dan Remi, “Kenang Amoen Jogasara (048/SPA/79).

Kemudian beberapa orang mahasiswa yang aktif mendaki gunung, diantaranya Heryono Ewok, Ilham, Harry Yusuf, Warnedy Ujang, Didik Sabudi, Slamet Heryadi, M.Hatta dan lain-lain berinisiatif untuk menyatukan kegiatan dan membentuk Kelompok Pencinta Alam. Organisasi ini adalah wadah yang menampung kegiatan mahasiswa STAN di alam bebas dan dapat dijadikan sebagai sarana belajar  berorganisasi. “Waktu itu Saya cuma berdua yang tingkat III, tapi mereka asik-asik jadi Saya gabung !”, Kata M.Hatta (005/SPA/79) mengingat masa perintisan.

Puncak Arjuna

Gunung Arjuno

Rapat-rapat diadakan untuk membahas nama organisasi, Lambang organisasi, dan AD/ART. Tercetus lah tiga alternative nama organisasi, PALA STAN, STAPALA, dan MAPALA STAN. Dan yang terpilih secara mufakat adalah STAPALA. Kemudian dibuat juga lambang STAPALA. Yang merupakan gambar kombinasi arah mata angina, gunung, pendidikan formal, kepulauan Indonesia, dan lingkaran2 kecil.Lambang seperti sampai sekarang digunakan STAPALA adalah karya Heryono (001/SPA/79). AD/ART membahas aturan-aturan dasar diantaranya syarat keanggotaan yaitu pernah mendaki 2 gunung dan dilantik sebagai anggota.

Pendakian Gunung Pangrango kemudian menjadi kegiatan awal STAPALA, sekaligus pelantikan pengurus STAPALA yang terpilih secara aklamasi, yaitu Ketua Harry Yusuf (008/SPA/79), dan sekretaris Ilham (004/SPA/79). “Waktu itu Kita main tunjuk-tunjukan aja, nggak ada yang formal”, Cerita Ilham mengenang saat merintis STAPALA.Juga dilantik anggota STAPALA yang sudah pernah mendaki 2 gunung sebagai implementasi dari aturan syarat keanggotaan. Tanggal pelantikan tersebut, 24 Nopember 1979 kemudian ditetapkan sebagai tanggal lahir STAPALA.

Harry Yusuf dan Ilham sepakat bahwa STAPALA adalah organisasi independen tidak berada dibawah Senat. Dana kegiatan akan dilakukan dengan cara menarik iuran anggota, tidak tergantung dengan Senat. Ternyata keberadaan STAPALA di luar senat atau dibawah senat menjadi perdebatan internal STAPALA yang terus menajam. Pihak Senat juga berusaha mendekati para perintis STAPALA agar organisasi yang baru berdiri ini ada di bawah senat. Pihak senat memang cukup merasa berkepentingan karena para anggota STAPALA adalah aktivis kegiatan-kegiatan kampus. Anggota STAPALA terbelah dalam dua kelompok yang berbeda pandangan.

Ketua dan Sekretaris STAPALA yang belum sempat membentuk kepengurusan kemudian digantikan oleh Kepengurusan baru yaitu Ketua Umum Siswiyono Pacis (021/SPA/79), Ketua I Amoen Jogasara (048/SPA/79), Ketua II Heryono (01/SPA/79), Sekretaris Untung (016/SPA/79). Pergantian kepengurusan dan perbedaan pandangan antara anggota STAPALA pada masa perintisan adalah wajar. Antara anggota STAPALA tetap saling mendukung dalam semua kegiatan di lapangan. “ Saya tetap aja sering ikutan kegiatan STAPALA walau sudah tidak jadi pengurus”, Kisah Ilham.

Kepengurusan baru kemudian melakukan pembenahan organisasi dan administratif. “ Saya memang diajak aktif untuk membenahi administratif”, Cerita Amoen Jogasara. Pengurus mendata seluruh anggota dan simpatisan STAPALA untuk pembenahan data anggota. Mahasiswa yang memilih menjadi anggota harus melalui syarat keanggotaan seperti tertuang dalam AD/ART STAPALA. “Waktu Saya tawarkan jadi anggota, ternyata lebih banyak yang memilih menjadi simpatisan”, cerita Amoen Jogasara. “Mereka sudah memenuhi persyaratan menjadi anggota STAPALA menurut AD/ART, namun karena tidak mau menjadi anggota STAPALA, Mereka tidak hadir pada saat pelantikan.

Mahasiswa yang memilih menjadi anggota kemudian dilantik. Kisah pelantikan kedua ini cukup seru seperti penuturan Amoen Jogasara :

Yang saya ingat pada masa pengurusan saya, ada rencana pelantikan anggota di Pantai Marunda. Tapi karena sampai sore baru kumpul semua dan pada saat itu kita kesulitan transportasi dan mempertimbangkan kondisi Marunda yang rawan, maka pelantikan dilakukan di ujung Kampus Purnawarman (sekarang kantin kampus…dulu bengkel mobil).Kami saling berangkulan dan Ada kayu bakar yang dinyalakan. Juga ada pidato sedikit tentang kesetiakawanan, bahkan ada yang berencana bahwa STAPALA akan jadi jaringan kuat. Mungkin cerita ini tidak ada yang mau mengungkapkan karena malu? Dilantik di Bengkel? ha ha ha”.

Perkemahan Mahasiswa Cinumpang 1980

Perkemahan Mahasiswa Cinumpang 1980

Anggota STAPALA yang terdata setelah pelantikan kemudian diberi nomor dan kartu anggota. Dalam rangka sosialisasi organisasi kemudian diadakanlah kegiatan perkemahan yang melibatkan seluruh aktivis kampus pada tanggal 27-29 Juni 1980 di Cinumpang. Kordinator Kegiatan adalah M. Hatta. Misinya adalah menarik simpati dari semua stakeholder kampus. Dosen-dosen dan pejabat lembaga diundang. STAPALA mencari dana sendiri, tidak minta dari Senat. Kegiatan tersebut dapat berjalan dengan lancar berkat dukungan Ateng Jogasara, Itjen Departemen Keuangan pada saat itu yang sekaligus ayah dari salah satu anggota STAPALA, Amun Jogasara. Kegiatan perkemahan sukses diikuti oleh mahasiswa dan dosen STAN saat itu. Nama STAPALA sudah bergema di Kampus STAN.

heryono

Heryono, 2004

Nama STAPALA dikenal di saat-saat awal juga karena sosok anggota-anggotanya. Didik Sabudi (006/SPA/1979) punya cerita tersendiri tentang  Heryono  (001/SPA/1979) atau biasa dijuluki si Ewok (karena berewok). Ia  adalah  mahasiswa yang sedikit bicara, pandangan matanya tajam, sangat cekatan, seperti tupai yang dengan ringan melompat dari satu dahan ke dahan yang lainnya, kisahnya. STAPALA begitu disegani di kampus STAN karena kehadiran Heryono. Pokoknya kalau masalah adu fisik, Kita mengandalkan si Ewok yang kesannya sangar. Beberapa anggota STAPALA angkatan pertama memang disegani di Kampus STAN karena penampilan dan tampang sangar-nya, selain Heryono ada M. Hatta (005/SPA/1979) dan Amun Jogasara (048/SPA/79).

amun jogasara

Amoen Jogasara, 2008

Eksistensi dan keberadaan organisasi STAPALA di Kampus ternyata kemudian tetap menjadi pertentangan antara pihak Senat dan STAPALA.  Apalagi pelaksanaan kegiatan di lapangan yang kadang menjadi pemicu perbedaan cara pandang antara anggota STAPALA yang lebih mengutamakan pelaksanaan dan hasil kegiatan dengan Senat yang sering terlalu mengutamakan birokrasi. Perbedaan tersebut berusaha di minimalisasi dengan melakukan kegiatan bersama. Diantaranya adalah melakukan pendakian bersama Gunung Arjunodi Jawa Timur, Agustus 1980. Selama di Malang, pengurus Senat berusaha melakukan pendekatan ke STAPALA. Hasilnya, beberapa anggota STAPALA berinisiatif untuk pulang sebelum semua kegiatan selesai. Sebagian lagi meneruskan kegiatan sampai dengan selesai, seperti pertandingan volly dan lain sebagainya. “Kalau menurut beberapa anggota momen itu adalah sebuah proses perdamaian yang sukses dengan Senat tapi menurut saya, momen tersebut adalah kemunduran untuk STAPALA yang baru berdiri”, cerita Didik Sabudi (alm).

Sejak saat itu kegiatan STAPALA berangsur berkurang.”Saat itu memang kekurangan kader, mungkin  karena ada korban-koban DO angkatan 1979, atau mungkin memang kebetulan angkatan 1979 dan 1980 nggak banyak yang suka dengan kegiatan alam bebas”, Cerita Amoen Jogasara. Ketika angkatan 78 lulus ternyata tidak ada regenerasi yang cukup mulus. Tidak muncul lagi kader-kader yang kuat untuk memimpin. Angkatan selanjutnya memilih untuk melakukan aktivitas sendiri-sendiri lagi. Semua berkas dan dokumentasi STAPALA dibawa oleh pengurus STAPALA yang sudah wisuda. Kisah dan sepak terjang STAPALA dikampus hilang bersamaan dengan angkatan 78 yang penempatan ke seluruh Indonesia.Periode 1981-1983 STAPALA secara organisasi tidak lagi memiliki kegiatan (vacum).

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: