you're reading...
Dari Masa ke Masa

STAPALA Lahir Kembali (1984-1989)

Untitled-39Adalah Igor Maninjau, saat itu tingkat III STAN di tahun 1984, sebagai ketua bidang olah raga dan seni Senat merencanakan mendirikan Kelompok Pencinta Alam. Organisasi ini rencananya berdiri secara otonom diluar Senat. Ia mengajak Heliantono atau Assue (tingkat.2). Mereka sepakat akan didirikan Arga Mitra (Sahabat Gunung).  Sebagai tindak lanjut, disosialisasikan ide pendirian tersebut. “ Saya tempel poster dimana-mana sebagai undangan terbuka rapat pendirian kelompok pencinta alam” kata Assue. Sejarah pendirian organisasi seperti halnya saat pendirian STAPALA terulang kembali.Saat itu tidak ada yang mengetahui bahwa sebelumnya ada STAPALA.

Suyatno Harun, Ketua senat pada saat itu menyampaikan hal tersebut ke beberapa anggota STAPALA. Secara kebetulan, beberapa anggota STAPALA angkatan awal diterima di Tingkat.IV STAN dan kembali masuk kampus Purnawarman. Diantaranya Amoen Jogasara, M.Hatta, Didik Sabudi dan lain-lain. Mereka merasa sangat berkepentingan, karena merasa telah pernah merintis kelompok. Pencinta Alam  sebelumnya di STAN, yaitu STAPALA.”Ketika masuk tingkat IV berbarengan, Saya memang merasa STAPALA dapat hidup kembali”, Kata M. Hatta (005/SPA/79).

a IMG_0012Akhirnya rapat dihadiri  tidak hanya tingkat. I-III tapi juga tingkat IV. Peserta rapat sekitar 50 orang. Terjadi perdebatan sengit antara yang akan mendirikan Organisasi Pencinta Alam baru dan mereka yang merasa sudah pernah ada STAPALA (Tingkat.IV). Setelah terjadi perdebatan dan negosiasi, Kemudian terjadi kesepakatan bersama yaitu melanjutkan nama STAPALA. Wah, Saya ngeri lah ngelawan anak tingkat IV yang sangar-sangar,” Kata Igor Maninjau mengisahkan kondisi saat itu.

Kemudian pertemuan memilih  pengurus Badan Pengurus Harian (BPH) STAPALA 84-85 yaitu Ketua Umum  Didik Sabudi (006/SPA/79) , Heliantono Assue (Ketua I). Ketua II, Putut Hardiyanto (tingkat II). Ketua III, Arya Bhrata (tingkat I)). “ Waktu saya kepilih sebagai ketua umum, Saya merasa kejeblos, Ya sudah terlanjur basah, pantang untuk mundur dari tantangan,”  kisah Didik Sabudi.  STAPALA dimulai lagi dari nol. Administrasi nol, uang kas nol. Secara struktur STAPALA kemudian berada di bawah bidang Olahraga Senat. Pertemuan-pertemuan menjadi aktivitas awal perintisan STAPALA, membahas AD ART, lambang, dan lain sebagainya.

5520_1131265493696_1589035534_334061_1459810_nSalah satu agenda kepengurusan adalah penetapan nomor anggota STAPALA. Catatan mengenai nomor anggota STAPALA di awal pendirian telah hilang seiring dengan masa kekosongan kgiatan STAPALA . Saat itu diputuskan untuk memberi nomor anggota mulai dari nomor 50, dengan pertimbangan, nomor 1 s.d 49 dicadangkan untuk anggota kehormatan (orang-orang yang berjasa kepada STAPALA baik di masa lalu atau di masa yang akan datang), para pendiri STAPALA, dan sebagainya. Penomoran 50 ke atas paling awal diberikan kepada pengurus STAPALA waktu itu.  Beberapa anggota awal STAPALA langsung diberi nomor anggota, sebagian lagi mengikuti prosesi pelantikan berbarengan dengan pelantikan angkatan 85. Dengan prinsip egaliter dan kesetaraan, pemberian nomor diundi; termasuk untuk Ketua STAPALA saat itu, Didik Sabudi.

Igor Maninjau menurut catatan kemudian  tidak bergabung dengan STAPALA, walau masih tetap melakukan kegiatan-kegiatan pencinta alam (13 tahun kemudian akhirnya dilantik menjadi anggota STAPALA pada Ulang Tahun STAPALA ke-29).

Pada periode ini STAPALA ditetapkan sebagai lembaga otonom oleh Senat, dengan SK 067/SKP.01/III/85 tgl 4 maret 1985 yang diandatangani Ketua Senat saat itu  Suyatno Harun (STAN 77). Penetapan sebagai lembaga otonom ini adalah langkah awal yang fenomenal dan tercatat dengan tinta emas organisasi STAPALA. Organisasi STAPALA yang pada awalnya dianggap sebagai oposan dan out of track diakui secara resmi oleh lembaga resmi kampus, Senat. STAPALA sudah bisa bergandengan dengan senat dan lembaga kampus. “Mulai tahun 1984 kondisi seudah semakin melunak”,Kisah Didik Sabudi (006/SPA/79). STAPALA jadi badan otonom, didorong tuntutan untuk TIDAK DIKEKANG (kebebasan) oleh Senat. Tapi pada saat itu, yang lebih dituntut sebenarnya adalah Kemandirian. Sejak saat itu  kegiatan STAPALA tidak lagi menjadi bagian dari kegiatan Seksi Olah Raga di Senat.

Kegiatan-kegiatan STAPALA kemudian mulai rame kembali. Kegiatan yang sifatnya massal dan melibatkan banyak mahasiswa kembali digelar, diantaranya perkemahan di Citerem, perkemahan di Sukamantri, Permata (Perkemahan Mahasiswa Awal Tahun ) dan lain-lain. Nama STAPALA kembali berkibar di kampus STAN. Banyaknya angkatan 85 juga mempengaruhi gairah kegiatan kepencintaalaman di kampus STAN waktu itu.Kolaborasi antara para perintis dan anak-anak muda STAPALA sangat disegani di kalangan kampus STAN.

Tahun 1984, STAPALA sudah punya posko dan peralatan pemanjatan (rapling) yang lumayan. STAPALA sempat  pernah kerja sama dengan Mapala UI untuk latihan panjat tebing. Walaupun demikian kegiatan rekrutmen formal semacam diklat yang sistematis belum dilakukan. Siapa saja yang ingin bergabung dengan STAPALA, memenuhi persyaratan AD ART, langsung dilantik sebagai anggota.

Kegiatan-kegiatan STAPALA kemudian bertambah tinggi kualitas dan kuantitasnya. Kegiatan awal STAPALA seperti berkemah dan mendaki gunung, kemudia mulai merambah tebing-tebing. Saat itu memang mulai ada kegiatan macho lainnya, yaitu panjat tebing. Tebing-tebing diseputaran Jakarta seperti Cibinong, Ciampea, Citatah, menjadi area latihan anak-anak STAPALA. Tahun 1986 kegiatan panjat tebing berhasil melakukan ekspedisi panjat tebing Serelo di Sumatera Selatan. Kegiatan ini merupakan ekspedisi panjat tebing pertama STAPALA. Kegiatan ini dilakukan antara lain oleh Tri Wibowo (093 /SPA/ 1985).

Kampus STAN kemudian diwarnai oleh adanya lembaga baru yaitu Prodip Keuangan. Secara lembaga Prodip Keuangan berada dibawah Balai Diklat, sedangkan STAN berada dibawah Direktur STAN. Status kelembagaan yang agak rancu ini kemudian secara turun temurun menimbulkan permasalahan-permasalahan tersendiri di lingkungan mahasiswa atau alumni STAN. Keberadaan mahasiswa STAN dan Prodip Keuangan memaksa STAPALA untuk merevisi PD PRT.

Catatan ini harus dilakukan mengingat kemudian anggota STAPALA adalah mahasiswa STAN dan Prodip Keuangan (berdasarkan PD PRT hasil revisi).  Mahasiswa Program Diploma masih ber kampus di pusdiklat masing-masing. Prodip Pajak di Kemanggisan, Prodip Bea Cukai di Rawamangun, hanya Prodip Anggaran yang berkampus di Purnawarman.

Arya Bratha

Arya Bratha

1987_1

Ekspedisi Mt.Blanc

Perintis mahasiswa Prodip Keuangan yang menjadi anggota STAPALA adalah  Arya Bratha-Prodip Anggaran (058/SPA/85) yang kemudian menjadi Ketua STAPALA periode 1986/1987. Pada tahun 1987, STAPALA merintis pendakian ke luar negeri yaitu ke Mt.Blanc di Swiss. Pendakian yang kemudian menjadi awal dari ekspedisi-ekspedisi besar STAPALA itu dilakukan oleh Arya Bratha dan Doddy Taufik Wijaya (089/SPA/85). Keduanya merupakan pendaki pendaki tangguh STAPALA yang berhasil pertama kali mengibarkan bendera STAPALA di puncak bersalju. Walaupun secara teknis pendakian ke Mt. Blanc tidak dikenal menyulitkan, menurut beberapa kalangan pendaki, ekspedisi ini cukup fenomenal dan melegenda di kalangan anggota STAPALA. Keberhasilan ekspedisi ini kemudian menjadi pemicu ekspedisi-ekspedisi STAPALA berikutnya. Angkatan 87 dipelopori oleh Wahyu Hartono (141/SPA/87) mulai merintis Ekspedisi ke Jayawijaya. STAPALA mulai berusaha meraih mimpi-mimpinya, mendaki gunung es.

STAPALA di kampus semakin dikenal. Setiap tahun, pada awal penerimaan mahasiswa baru, dilakukan perkemahan mahasiswa. Kegiatan ini adalah kegiatan wajib, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari masa orientasi mahasiswa. Seluruh Anggota STAPALA adalah panitia inti dari kegiatan ini. Tentu Saja STAPALA begitu dikenal di kalangan mahasiswa baru. PERMATA atau Perkemahaan mahasiswa Awal Tahun melibatkan lebih dari 3000 orang. Pada tahun 1989 ketika Permata di adakan di Cipelang, untuk mengangkut peserta ke lokasi dibutuhkan 35 truk ABRI. Sayangnya kegiatan ini hanya berlangsung sampai dengan 1989. Perubahan pengaruh dan kondisi politik kampus mempengaruhi matinya PERMATA. Selain PERMATA, STAPALA juga menyelenggarakan kegiatan-kegiatan outdoor untuk kelangan umum mahasiswa STAN seperti perkemahan di onrust, pendakian umum ke Gunung Gede, dan lain-lain.

Tahun 1987  Sebagian kegiatan akademis STAN mulai dipindahkan ke kampus baru di Jurangmangu Tangerang. Mahasiswa tingkat I sudah harus berada di Kampus baru, sedangkan sisanya masih kuliah di Kampus Purnawarman Kebayoran Baru. Kampus baru yang berada di daerah pinggiran Jakarta, dengan lingkungan yang sangat berbeda tentu juga berpengaruh terhadap organisasi STAPALA. Kampus yang gersang, tidak ada telpon, sulit transportasi, melahirkan kesenjangan-kesenjangan tersendiri. Secara organisasi STAPALA masih berkedudukan di Kampus Purnawarman. Proses rekrutmen anggota baru masih diadakan di Kampus Lama sampai dengan periode 1989, walau kegiatan orientasi mahasiswa mulai berpindah ke Jurangmangu. Pada akhir tahun 1989 STAPALA memiliki dua posko di Purnawarman dan Jurangmangu.

Anggota STAPALA pada periode ini banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan besar kampus seperti  MPK (Masa Perkenalan Kampus), PERMATA (perkemahan Mahasiswa Awal Tahun), Wisuda Mahasiswa, atau Malam Inagurasi. Tidak jarang anggota STAPALA pada saat bersamaan menjadi ketua-ketua dari kegiatan tersebut. Anggota STAPALA dikenal sebagai mahasiswa yang kreatif, kompak, ringan tangan, dan berdedikasi dengan kampus. Memang, berbagai kegiatan tersebut mempunya dampak yang saling menguntungkan dengan lembaga lain seperti Senat. Bagi Senat, keterlibatan pentolan-pentolan STAPALA berarti melibatkan seluruh pasukan STAPALA. Bagi STAPALA kegiatan tersebut adalah kesempatan untuk  sosialisasi STAPALA ke mahasiswa baru. Anak-anak STAPALA yang doyan dengan kesibukan biasanya juga menggunakan kesempatan untuk unjuk gigi…gimana machonya anak STAPALA. Sering Kita paksa anak-anak mahasiwa baru untuk nyanyi atau bikin yel-yel ala STAPALA

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

2 thoughts on “STAPALA Lahir Kembali (1984-1989)

  1. mantab bang…jadi terharu…hehehe

    STAPALA DJAIA…!!!

    asig
    828spa08

    Posted by asig | December 8, 2010, 8:52 am
  2. Oh, jadi Permata ’89 ajang “perploncoan” itu Permata terakhir? Alhamdulillah, 89.1.1.448 tidak sampai di-tower🙂

    Posted by Wikiapbn | March 6, 2012, 1:13 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: