you're reading...
Dari Masa ke Masa

STAPALA Berjuang Melawan Krisis (1995-2000)

Kebijakan-kebijakan Departemen Keuangan yang berubah, mau nggak mau ikut mempengaruhi kehidupan kampus kedinasan. Kebijakan yang paling menghantam kehidupan mahasiswa adalah tidak adanya lagi Tunjangan Khusus (TC) bagi mahasiswa STAN. Bila tahun sebelumnya mahasiswa tk. II sudah diangkat menjadi Calon PNS dan berhak mendapat TC, sejak tahun 1995 pengangkatan sebagai calon PNS dilakukan setelah mahasiswa lulus D3.

Mahasiswa STAN yang semula terkenal karena bisa membiayai dirinya sendiri, sangat terpengaruh oleh kebijakan ini.Bukan rahasia lagi kalau sebagian besar mahasiswa STAN adalah berasal dari kalangan menengah ke bawah. Mereka sekolah di STAN karena mendambakan sekolah gratis, dibayar, dan langsung kerja. Kondisi ini juga mempengaruhi aktivitas anak-anak Stapala. Perjalanan-perjalanan tidak lagi sebanyak periode sebelumnya. Ekspedisi-ekspedisi besar terlupakan. Kegiatan lebih banyak fokus pada internal organisasi di kampus.

Mahasiswa STAN atau Prodip Keuangan pada masa ini juga meningkat jumlahnya. Mahasiswa Anggaran, pajak, bea cukai, menerima dua kali lipat mahasiswa dibanding sebelumnya. Muncul spesialisasi-spesialisasi baru seperti PPLN, dan dihapusnya spesialisasi pegadaian (karena perubahan status pegadaian menjadi persero). Banyak aturan-aturan kampus maupun kebijakan Senat yang dianggap sebagai mematikan kreativitas mahasiswa. Mahasiswa mulai diwajibkan mengenakan seragam ketika menerima kuliah. Seragam putih hitam kemudian menjadi seragam seluruh mahasiswa STAN Prodip Keuangan. Tidak ada lagi flannel atau celana gunung, yang menjadi ciri khas anak-anak Stapala. Keberadaan Stapala di Kampus tidak lagi ditunjang oleh perwakilan Stapala di Senat (bidang pencinta alam). Bidang Pencinta alam tidak ada lagi.

Sementara itu lingkungan kampus STAN juga berubah. Perumahan Bintaro Jaya makin meluas dan bertentangga dengan kampus STAN, makin meramaikan lingkungan yang dulunya sepi. Berdirinya ruko-ruko dan Bintaro Plasa semakin melengkapi fasilitas lingkungan kampus STAN. Kompetitor Stapala sekarang bukan lagi hanya ada di internal kampus, tapi juga ada di sekitar kampus (eksternal). Mending nongkrong di Mall, daripada di kampus”, demikian anggapan sebagian mahasiswa STAN.

Namun demikian, anak-anak Stapala tidak patah semangat dengan kondisi dan kebijakan kampus. Bahkan, tahun 1996 Stapala sukses menggelar Kejuaraan Panjat Dinding Stapala (KPDS) yang ber level nasional. Sebelumnya Stapala membangun sarana prasarana, termasuk dinding panjat yang bertaraf nasional. Dinding Panjat Stapala pada waktu itu sempat menjadi Dinding panjat tertinggi di Jakarta. KPDS membuka kembali mata anak-anak Stapala, bahwa kondisi kampus bukan halangan untuk melakukan aktivitas besar. Perintis dari KPDS antara lain Aris Handaru dan Jarot. Ketua Stapala saat itu adalah Israwan Nugroho.Sayangnya dinding panjat kebanggaan tersebut kemudian rubuh tertiup angin besar pada bulan Desember 1997.

Kegiatan-kegiatan Stapala lebih banyak memperhatikan sektor internal dan organisasi.  Kegiatan-kegiatan besar yang semula selalu di warnai oleh Stapala seperti PERMATA atau PPK tidak ada lagi. Bahkan Stapala sudah sering tidak dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan besar kampus. Persaingan antar elemen dan kelompok di kampus semakin menjadi dan saling memojokan. Kegiatan-kegiatan kreatif seperti musik dilarang diadakan oleh senat. Stapala pernah melawan kebijakan ini dengan menggelar acara musik untuk acara peduli gunung merapi di halaman Posko Stapala. Acara yang murni untuk membantu musibah letusan gunung merapi tidak mendapat ijin dari Kampus. Salah satu pelopor acara ini adalah Dede ‘Simon’.

Badai krisis moneter dan lahirnya reformasi juga turut mewarnai periode perjuangan ini. Kenaikan harga yang melangit dan situasi dan kondisi yang rawan turut menurunkan aktivitas outdoor anak-anak Stapala. Banyak pula anak Stapala lebih konsentrasi pada kegiatan-kegiatan mahasiswa yang dianggap lebih progresif seperti demontrasi dan mendirikan organisasi-organisasi baru di kampus. Memang, saat itu banyak kegiatan dan organisasi baru yang sebelumnya dikekang, bermunculan.

Badai krismon ternyata juga membuat anak-anak stapala kreatif dan mencari kegiatan-kegiatan yang tidak membutuhkan dana besar, tapi mendatangkan dana. Kegiatan tersebut antara lain seminar-seminar non outdoor di kampus STAN. Seminar tersebut diantaranya mendatangkan Dandossi Matram (101/SPA/85) sebagai pembicara, yang saat itu terkenal sebagai salah satu ahli saham negeri ini.

Aktivitas alumni seakan juga meredup sampai dengan diadakan sarasehan 1998. Aris Handaru, Febra Faturahman, Kupang M.Lukman, Zaeni, dan beberapa anak Stapala alumni yang kebetulan sering kumpul di Rawamangun berinisiatif untuk mengadakan peringatan 20 tahun stapala. Mereka kemudian menyusun buku 20 tahun Stapala. Walaupun sangat sederhana, tapi buku itu telah mengungkap sejarah pendirian Stapala yang tidak pernah diketahui anak Stapala generasi 90-an.  “Menurut gue, ini kegiatan terbesar di era 90-an, menemukan cerita dan orang-orang yang mendirikan Stapala”, kisah Indra Jabrix yang turut menjadi anggota tim penyusun buku 20 tahun Stapala. Generasi awal Stapala bertemu dengan generasi terakhir Stapala. Generasi awal Stapala seperti Amoen Jogasara kemudian aktif kembali memback up kegiatan-kegiatan Stapala.

Sarasehan Stapala tahun 1998 di Cisarua Bogor memicu aktifnya alumni menghangatkan kegiatan Stapala yang kesannya meredup. Foksta sejak saat itu di pimpin oleh kordinator kolektif sebanyak 5 orang yang mewakili angkatan-angkatan. Mereka adalah Amoen Jogasara, Dadang Sofyan, Indra Jabrix, Aris Handaru, dan Iwan Handoko. Mereka mengaktifkan kembali alumni-alumni yang mulai lupa pada Stapala, menyusun kordinator-kordinator wilayah, membantu pelaksanaan kegiatan stapala seperti Diklat dan gladian kepemimpinan, membantu membangun kembali Dinding Panjat. Rapat-rapat Foksta pada saat itu banyak difasilitasi oleh Amoen Jogasara. “Kantor gue di Slipi sering ditongkrongin dan dibegadangin anak-anak tuh”, kenang Amoen Jogasara. Komunikasi antara Stapala kampus dan alumni makin baik karena telpon sejak th pertengahan 90 an sudah hadir di kampus STAN.

Pada sarasehan Stapala tahun 1999 di Cibogo, orang-orang yang terlibat dalam pendirian Stapala hadir. Heryono, M.Hatta, Slamet Heryadi, hadir dan tetap peduli dengan keberadaan Stapala. Mereka kemudian disaksikan oleh generasi-generasi angkatan 90 an, menyepakati sejarah pendirian Stapala dan penetapan tanggal 24 Nopember sebagai hari ulang tahun Stapala.

Reformasi negeri ini juga mewarnai pemilihan Ketua Stapala periode 1998/1999. Setelah sekian tahun Stapala dipimpin oleh mahasiswa tingkat IV, kali ini Jauhari Agung terpilih sebagai ketua Stapala walau masih Tk.III. Tingkat IV yang selama ini dianggap lebih mapan dan berpengalaman, kalah oleh semangat pembaruan generasi muda Stapala. Anggota Majelis pertimbangan (MP) Stapala diwarnai oleh masuknya perwakilan alumni (hasil sarasehan Cisarua 1998).

Pada masa Ketua Stapala Wicaksono (196/SPA/89) Stapala mendirikan kembali Dinding Panjat yang pernah rubuh. Lokasi Dinding panjat semakin mendekat ke posko Stapala. Dinding kebanggaan Anak Stapala kembali berdiri, seakan menandakan tangguhnya perjuangan Stapala melawan badai krisis dan perubahan.

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: