you're reading...
Dari Masa ke Masa

Berkibarnya Bendera Stapala (1990-1995)

1991_1992_1Posko stapala pindah secara resmi dari kampus purnawarman ke kampus jurangmangu pada tahun 1991. Bersamaan dengan berpindahnya seluruh kegiatan akademis. Mahasiswa Prodip Keuangan juga pindah dari pusdiklat-pusdiklat. Suasana kampus berubah total. Kampus Purnawarman yang hanya menampung 200-300 mahasiswa menjadi kampus Jurangmangu dengan 3000 an mahasiswa.

Suasana kampus yang berada di tengah keramaian kota (Purnawarman) berubah menjadi kampus yang sunyi senyap ditengah perkampungan dan perkebunan pinggiran Jakarta. Juga sebaran lokasi kampus Jurangmangu yang begitu luas dengan 4-5 gedung kampus yang terpisah pisah menyebabkan interaksi antar mahasiswa tidak se sering di kampus Purnawarman. Fasilitas kampus yang masih minim seperti tidak adanya telpon menyebabkan komunikasi dengan dunia luar masih terbatas. Mahasiswa yang terpecah menjadi  STAN dan Prodip Keuangan, dan terbagi lagi menjadi jurusan-jurusan anggaran,pajak, bea cukai, PBB, pegadaian, PPLN, menjadikan suasana kampus yang cukup terkotak-kotak.

Perpindahan posko secara bertahap berlangsung antara periode 89/90 sd 90/91. Setelah th 1991 praktis posko purnawarman tidak lagi diigunakan. Perpindahan posko secara resmi di lakukan dengan kegiatan gerak jalan membawa bendera Stapala, oleh Stapala angkatan 1991 di Hari Ulang Tahun Stapala ke 12. Gerak jalan dilakukan antara kampus Purnawarman menuju Kampus Jurangmangu.

Pada periode awal di kampus jurangmangu, Stapala berusaha untuk tetap eksis terhadap perubahan lingkungan kampus. Lingkungan kampus yang masih asri dan bernuansa alam justru dijadikan tempat yang tepat untuk melakukan latihan-latihan.  Pada masa Diklat Stapala, banyak materi yang bisa dilakukan di kampus dan sekitarnya. Materi Peta Kompas dan Survival bisa dilakukan di perkampungan dan perkebunan sekitar kampus. “waktu itu Kita bisa latihan penyebrangan basah di kali belakang kampus” Kisah Indra Jabrix (263/SPA/90). Latihan repeling, jumaring, dan tali temali memanfaatkan gedung kampus atau tower air yang cukup tinggi. Stapala berusaha eksis dalam berkompetisi dengan aktivitas-aktivitas mahasiswa yang mulai muncul dan berkembang seperti kegiatan-kegiatan olah raga, bela diri, keagaamaan, kedaerahan, dan lain-lain.

Kampus Jurangmangu yang gersang dan tidak ada pohon rindang, menginspirasikan Stapala untuk melakukan kegiatan penghijauan. Pada tahun 1990 dan 1991 Stapala mengkordinir kegiatan PPK (Pekan Penghijauan Kampus) yang menjadi satu kesatuan dari kegiatan MPK (Masa Pengenalan Kampus) bagi mahasiswa baru. PPK adalah kegiatan yang menggantikan kegiatan PERMATA yang oleh beberapa elemen kampus dianggap pemborosan dan beresiko tinggi. Terbukti, belasan tahun kemudian hasil kegiatan Stapala cukup membuat kampus STAN rindang dan teduh.

Pada awal tahun 1990 an, Stapala banyak melakukan perbaikan-perbaikan di bidang organisasi dan administrasi. Diklat Stapala sebagai kegiatan rekrutmen anggota mulai dibenahi sistem dan metodenya mengikuti perkembangan kepencintaalaman di kalangan mahasiswa di kala itu. Kegiatan Diklat yang sebelumnya terkesan asal-asalan dan yang penting ada, dibuatkan metode yang sedikit banyak adalah contekan dari berbagai pendidikan dasar yang ada waktu itu. Saat Diklat di kordinir oleh Edy Supriadi ‘ejoe’ (255/SPA/90) Kegiatan sudah mulai baik. Konsep diklat adalah gabungan dari berbagai sistem pendidikan dasar di berbagai sempat. Kebetulan angkatan 90 an banyak yang merupakan aktivis pencinta alam di masa sekolah menengah. Tentu saja, nuansa pendidikan dasar semi militer yang ngetrend waktu itu, disesuaikan dengan kondisi mahasiswa STAN. Beberapa anggota Stapala dikirim ke sekolah-sekolah pendaki gunung untuk meningkatkan kualitas dan menambah skill. Tercatat Ferry ranger dan Syamsurizal sempat mengenyam Sekolah Pendaki Gunung Wanadri.

Kegiatan –kegiatan Stapala cukup banyak mengundang perhatian kalangan kampus. Stapala bahkan harus melaksanakan Rekrutmen anggota sebanyak dua kali setahun untuk menampung keinginan mahasiswa STAN untuk bergabung.Tercatat 255 orang bergabung dengan Stapala selama periode 1990-1995. Rekor terbesar dibanding periode Stapala lainnya.  Penampilan Anggota Stapala yang juga selalu membuat trend juga menciptakan kesan tersendiri. Seragam Biru Stapala, yang pertama kali digunakan tahun 1992, menambah kebanggaan tersendiri bagi anggota Stapala. “ Seragam Biru Stapala pertama kali digunakan waktu pelantikan anggota Stapala awal tahun 1992”, Kata Buchori Nahar (237/SPA/90) salah satu pentolan angkatan 90 an. Trend lain yang ditularkan ke kampus pada saat itu adalah pakaian kotak-kotak flannel. Pada masa itu baju Flannel identik dengan kalangan Pencinta Alam. Anak-anak Stapala juga pada masa itu selalu mewarnai kegiatan-kegiatan besar kampus. Kita selalu bikin kegiatan teatherical yang bernuansa outdoor di Kegiatan Masa Pengenalan Kampus (MPK) yang kemudian berubah menjadi OPK (orientasi Pengenalan Kampus) atau Dinamika.

Puncak dari kegiatan Stapala adalah Ekspedisi-ekspedisi gunung es. Pada periode 1990-1995 Stapala dengan pede nya mencanangkan diri untuk melakukan pendakian Seven Summits yang melegenda. Pendakian gunung es diawali dengan kesuksesan pendakian Mt.Cook (New Zealand) di akhir tahun 1990. Doddy T.Wijaya memimpin junior-juniornya Panca Kurniawan dan Yudhi Dharma Nauly mengibarkan bendera Stapala di puncaknya. Keberhasilan ekspedisi ini menambah pede anak-anak Stapala. Beberapa anggota Stapala dipimpin oleh Ketua Bidang Litbang Saat itu Joko Teguh Santoso serius menangani Ekspedisi-ekspedisi. Deklarasi Seven Summit sempat menjadi theme dari Dinding Panjat Stapala. Walaupun sempat shock dengan kegagalan Ekspedisi Mt.Elbrus (Rusia), Yudhi Dharma Nauly membayarnya dengan kesuksesan salah satu dari 7 puncak dunia, Kilimanjaro (Tanzania) tahun 1992. Tahun berikutnya Stapala merambah Carstenz yang beranggotakan Febra Pakde, Dwi Gembung, dan Johanes Blontang. Walau gagal sampai dipuncak karena badai hebat, ekspedisi ini berhasil secara manajemen dan menuntaskan mimpi stapala sejak tahun 1987. Sejak saat itu Kegiatan ekspedisi gunung es tidak lagi dilakukan. Mungkin juga terpengaruh kecelakaan gunung yang menimpa pendaki-pendaki terbaik Indonesia, Norman Edwin dan Didik Samsu, yang meninggal di Aconcagua (Chili).

Tahun 1990 Stapala untuk pertama kalinya mendirikan Dinding Panjat di Kampus. Pendirian dinding panjat  didanai oleh pihak Senat yang waktu itu mempunyai bidang pencinta alam (anggotanya bidang ini selalu anggota Stapala). “ waktu itu nggak tahu ide siapa, warna dinding panjat loreng-loreng tentara”, cerita Israwan Nugroho, salah satu pemanjat handal Stapala waktu itu. Pendirian Dinding Panjat memicu anak-anak Stapala untuk manjat. Selain Israwan, Gunawan Ogun, Agus Wahyu Padel kemudian diteruskan oleh Aris Handaru, Djarot merupakan orang-orang yang berdedikasi dalam kegiatan panjat dinding Stapala. Mereka menamakan dirinya Power Climb , yang turun temurun menjadi kebanggaan anak Stapala. Mereka juga merintis keikutsertaan Stapala di event-event kejuaraan Panjat dinding lokal maupun nasional.

Secara administratif periode ini juga melakukan perbaikan-perbaikan seperti  penyusunan biodata anggota dengan buku anggota yang sebelum terserak ke mana-mana. Di bidang keannggotaan juga terjadi perubahan yang cukup fenomenal yaitu perubahan status keanggotaan Stapala yang sebelumnya hanya bagi mahasiswa aktif STAN, berubah menjadi keanggotaan seumur hidup. Hal berarti keanggotaan mahasiswa yang drop out (DO) STAN dan alumni tetap sebagai anggota Stapala bukan bekas anggota (alumni). Anggota Stapala adalah anggota seumur hidup. Keputusan resmi keanggota seumur hidup di sahkan pada Rapat Anggota Stapala tahun 1991. Tidak ada istilah alumni Stapala, tapi Stapala alumni STAN.

Keanggotaan seumur hidup Stapala kemudian menjadi awal tetap aktifnya anggota Stapala yang telah keluar STAN. Stapala alumni  tetap aktif mem back up kegiatan-kegiatan Stapala. Puncaknya adalah ketika di bentuk Forum Komunikasi Stapala Alumni (Foksta) tahun 1994 di sarasehan alumni Jogjakarta. Foksta di pelopori oleh Israwan, Agus Gustav, Indra Jabrix, Joko Teguh, yang ketika itu adalah Stapala alumni yang penempatan di Jawa Tengah/Jawa Timur. Keberadaan Foksta diharapkan dapat menjadi penghubung antara alumni dengan alumni, dan alumi dengan anggota Stapala aktif (mahasiswa). Foksta membentuk kordinator-kordinator Wilayah (Korwil) di seluruh Indonesia. Walau bukan organisasi dengan struktur formal, Foksta menjadi pemersatu dan kordinator kegiatan-kegiatan Stapala di daerah.

Periode awal sampai dengan pertengahan 1990 juga menyimpan cerita persaingan dan pertentangan antar kelompok di Kampus STAN, bahkan internal Stapala. Status lembaga STAN dan Prodip Keuangan sering memicu perselisihan. Nama Stapala sempat di usulkan untuk diganti dengan nama baru, karena dianggap hanya mewakili STAN. Saat itu STAN dianggap hanya mewakili mahasiswa spesialisasi Akuntansi. Padahal anggota Stapala waktu justru sebagian besar adalah mahasiswa prodip keuangan. “Gue Cuma heran Stapala meributkan nama, padahal Kita kelompok yang paling tidak SARA di kampus”, kenang Indra Jabrix (263/SPA/90). Akhirnya ada kesepakatan ayng dituangkan dalam keputusan BPH bahwa Stapala adalah Stapala, bukan singkatan dari STAN Pencinta Alam.

Persaingan dan pengelompokan kampus juga menyebabkan perselisihan-perselisihan antar kelompok, bahkan dengan pihak eksternal kampus. Nah untuk masalah-masalah fisik kayak gini di generasi 90 an yang ngetop antara lain Bachtiar Robocop, Yudhi Dharma Nauly, atau Mufriyandi. Stapala, yang waktu itu ikut kejuaraan bola basket antar klub di kampus, sempat menjadi musuh bagi kelompok lain. Mungkin karena penonton Stapala yang urakan dan semau gue. “Nonton basket sambil bawa obor, tenda, bendera,slayer, kentongan terang aja bikin sirik penonton lain”, Kisah Agus “Gustav” Subagyo. Perselisihan dengan pihak eksternal juga terjadi ketika terjadi perbedaan pendapat tentang pengadaan bambu untuk penghijauan kampus. Pihak eksternal yang diwakili oleh kelompok pemuda disekitar kampus menganggap Stapala memonopoli pengadaan bambu. “ Busyet, banyak banget pada nyerbu dan bakar bambu Kita”, Kenang Israwan.

Cerita, kisah, uneg-uneg dan perjalanan, oleh Heliantono Assue difasilitasi dengan dibuatkan Book of Stapala atau Diary Stapala pada akhir tahun 1989. Anak-anak Stapala kemudian menganggap buku ini sebagai bacaan wajib dan alat komunikasi yang tidak formal tapi efektif. Kisah, cerita perjalanan dan sebagainya kemudian menjadi inspirasi Indra Jabrix (263/SPA/90) untuk menerbitkan majalah Dinding Kampus, Nuansa, Mei 1991, dan Bulletin Stapala tahun 1992. “Sayang banget, kalau kisah-kisah lucu, tegang, mengharukan cuma bisa Kita share di posko doang,” Kenang Indra Jabrix (263/SPA/90). Bulletin Stapala kemudian diterbitkan rutin dan didistribusikan ke seluruh anggota Stapala di seluruh Indonesia. Stapala pada masa itu punya penulis-penulis handal dan seniman-seniman yang kreatif seperti Agus Margono (Gusmar), Difai, Thofa Iskandar, Ikhwan Sopha, Eri Sundari, Zamzam, Agus Gadhul,dan lain-lain. Sayangnya, Bulletin stapala kemudian tidak terbit lagi sejak terakhir terbit tahun 1995, kecuali tahun 2003 Bulletin Nuansa sekali terbit dengan format Majalah umum.

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

2 thoughts on “Berkibarnya Bendera Stapala (1990-1995)

  1. Mas Indra adminnya ini blog?

    Posted by 734 black | November 30, 2010, 11:41 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: