you're reading...
Dari Masa ke Masa

Stapala melangkah pasti ( 2000-2008)

 

Banyaknya organisasi baru di kampus menjadi tantangan tersendiri bagi eksistensi Stapala. Perubahan-perubahan internal kampus seperti Senat menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tidak banyak membawa perubahan bagi Stapala. Kucuran dana dari BEM tetap saja relatif sangat kecil untuk menunjang kegiatan-kegiatan Stapala.

Aktivitas dan back up alumni untungnya semakin menguat. Komunikasi antar anggota semakin mudah dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Makin ngetrend nya internet membuka sumbatan komunikasi yang selama ini terjadi. Milis Stapala yang dirintis oleh Dadang Sofyan, kemudian menjadi ajang kumpulnya anak Stapala di dunia maya. Selanjutnya website Stapala.com, yang mulai dirintis tahun 2002 juga menjadi tempat sharing informasi yang efektif. Teknologi Handphone dan SMS juga makin mempermudah komunikasi. Mana kebayang jaman dulu, bisa telpon dari puncak gunung…hmmm, hebat.Terakhir, fasilitas-fasilitas komunikasi komunitas di internet seperti friendster dan facebook makin mempermudah terbentuknya Stapala Network.

Pendidikan dan latihan dasar makin membaik dan meningkat kualitasnya. Perubahan metode dan perbaikan materi membuat kualitas anggota baru Stapala semakin membaik. Walaupun kegiatan Diklat sempat kosong ditahun 2005, tapi ditahun berikutnya kualitas diklat meningkat secara drastis. Era Ketua BPH Stapala M.Hilman berhasil membentuk anggota-anggota Stapala yang punya skill kepencintaalaman yang baik. Periode Ketua Stapala Cahyana (Yoyon) melanjutkan keberhasilan dan kualitas diklat yang telah ada. Kemampuan anak Stapala dalam beraktivitas di alam bebas semakin mumpuni.Diklat Stapala yang selama ini terkesan asal, menjadi sangat serius dengan masa bimbingan yang cukup panjang (3 bulan). Anggota Stapala yang berhasil dilantik betul-betul telah tertempa lahir dan batin. Pada tahun 2007 Diklat semakin diperhatikan, dengan terbentuknya Badan Diklat (badik) Stapala yang dikomandani Heliantono Assue (057/SPA/85). Gladian Kepemimpinan juga kemudian digarap serius oleh Badik Stapala, agar dapat melahirkan anggota Stapala yang berkualitas.

 

Pada periode ini terbentuk 2 divisi baru yaitu divisi arung jeram dan divisi lingkungan hidup. Divisi Arung jeram di pelopori oleh Komeng, Qunqun, dan lain-lain berhasil ngomporin anak-anak stapala untuk berpetualang di sungai. Dengan modal saweran Stapala akhirnya bisa memiliki perahu sendiri untuk ber arung jeram.

Divisi arung jeram ternyata banyak diminati anak-anak Stapala. Sebenarnya, kalau dibandingkan dengan kelompok pencinta alam tingkat universitas lain sebetulnya keberadaan divisi arung jeram stapala boleh dibilang terlambat.Tapi tetap membanggakan, apalagi bagi para alumni yang dulu tidak sempat terpikir bisa berpetualang di sungai dengan perahu dan skipper milik stapala.

Divisi Lingkungan Hidup walaupun secara formal baru bardiri, sebenarnya sudah sering melakukan kegiatan. Acara-acara hari lingkungan hidup dan hari bumi menjadi aktivitas rutin tahunan divisi LH. Banyak kegiatan yang sangat bermanfaat dilakukan anak Stapala dalam mengelola lingkungan sekitar kampus. Pembersihan sungai depan kampus dan kolam alias empang di sudut kampus adalah salah satunya. Hari bebas asap knalpot juga menjadi acara rutin Stapala dalam rangka memperbaiki kualitas lingkungan hidup kampus.

Menyatunya lembaga kampus menjadi STAN (menggabungkan lembaga Prodip Keuangan yang tadinya ada) menjadikan Kondisi Kampus yang kondusif.  Solidnya dukungan alumni, menimbulkan kepercayaan diri Stapala untuk melakukan ekspedisi pendakian. Agustus Tahun 2007 Stapala mengirim tim untuk mendaki gunung lauser di Nanggroe Aceh Darussalam. Jatmiko, dan kawan-kawan berhasil menggapai puncak setelah melakukan pendakian selama 14 hari. Ekspedisi Lauser menjadi ekspedisi pendakian besar yang pertama setelah ekspedisi carstenz di tahun 1993. Butuh waktu 14 tahun untuk kembali ber ekspedisi. Pendakian Gunung Lauser berhasil meningkatkan rasa percaya diri dan kebanggaan anak-anak Stapala. Anak-anak Stapala juga sukses melakukan pendakian tim putri ke 10 gunung secara marathon tahun 2006.

Anggota Stapala yang semakin berkualitas menyebabkan naiknya manfaat Stapala bagi lingkungan sekitar. Pada banjir besar tahunan Jakarta tahun 2007, dan 2008 Stapala sangat aktif berperan dalam evakuasi korban banjir disekitar Tangerang. Anggota Stapala dan perahunya turun langsung menolong korban banjir, terutama di wilayah sekitar kampus STAN. Posko Stapala dijadikan salah satu posko banjir wilayah Tangerang, karena tersedia perahu dan anggota Stapala yang siap menolong.

Anggota Stapala juga secara aktif membantu Lembaga (STAN) ketika terjadi peristiwa hilangnya mahasiswa Bea Cukai yang sedang berkemah du gunung Salak. Stapala menurunkan 20 orang anggotanya, termasuk alumni, dalam rangkan pencarian Muklis Rambe yang menghebohkan (selamat, walau telah hilang 5 hari). Pengalaman melakukan SAR dan bekerja sama dengan tim dari kelompok pencinta alam lain sangat bermanfaat bagi Stapala.

Stapala alumni dengan Fokstanya makin eksis dalam menunjang kegiatan-kegiatan Stapala. Selain badan diklat (badik), dibentuk pula PPAS (Perkumpulan Pencinta Alam Stapala) sebagai unit bisnis yang fokus pada event organizer . Keberanian membentuk unit bisnis ini tidak terlepas dari pengalaman Stapala menggelar acara-acara besar alumni seperti kongres alumni (tahun 2003 dan tahun 2007), Reuni alumni STAN ( angkatan 88), acara-acara perkemahan, family gathering, dan lain sebagainya. Buchori Nahar (237/SPA/90) adalah orang dibalik gelaran acara-acara besar yang di handle Stapala. PPAS di tukangi oleh Indra Jabrix, Israwan, dan Difai. Aktivis-aktivis era 90 an yang kembali turun gunung.

Pada periode ini bahkan Stapala berhasil menggelar 2 kali Kejuaraan nasional panjat dinding (KPDS) yaitu tahun 2003, dan tahun 2006. Dan untuk pertama kalinya kegiatan Stapala (KPDS 2006) memperoleh keuntungan/laba. “Wah, sukses besar lah”, ujar Ocol, Kordinator KPDS 2006. Sayangnya, tetap belum ada anggota Stapala yang berhasil menjuarai kegiatan tingkat nasional ini.

Tahun 2003 Sarasehan stapala di Pancawati Bogor menetapkan Dandossi Matram (101/SPA/85) sebagai ketua Foskta menggantikan kordinator kolektif Foksta yang tidak aktif. Kegiatan-kegiatan Foksta bertambah solid. Acara-acara gathering alumni kemudian cukup sukses menghadirkan Stapala-stapala alumni untuk aktif kembali. Sarasehan kemudian sukses digelar di pasuruan (2005), Lembang (2006) dan Jogjakarta (2007).

Periode ini ditutup dengan bergantinya kepemimpinan lembaga STAN. Perhatian Kampus terhadap kegiatan kemahasiswaan menurun. Pembangunan kampus fokus pada pembangunan fisik. Kampus STAN  memang  terlihat lebih elok.  Sayangnya kegiatan-kegiatan kemahasiswaan dianak tirikan. Puncaknya, Bulan Juli 2009 Posko Stapala dipaksa pindah tanpa ada kejelasan gedung atau ruang penggantinya. Sekali lagi Stapala terkena badai …….Anggota Stapala pasti akan tetap mampu bertahan di medan apapun, Stapala jaia ..!!!

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: