you're reading...
Arung Jeram

Menjaga Semangat Mengarungi Jeram

Kegiatan arung jeram di Stapala adalah kegiatan paling anyar. Walau sejak awal tahun 90-an banyak anggota Stapala yang telah mengikuti kegiatan arung jeram secara pribadi, tapi belum terpikir untuk menjadikannya sebagai kegiatan wajib di Stapala.

Kebutuhan akan alat-alat yang cukup mahal, dan terbatasnya penggemar arung jeram, menjadi alasan utama. Sampai dengan awal tahun 2000-an kegiatan arung jeram di Stapala hanya dilakukan perorangan. Kegiatan arung jeram berada di bawah divisi caving dan arung jeram (Corad). Kenyataannya, lebih sering kegiatan caving dibanding arung jeram.

Pada tahun 2003, dipelopori oleh angkatan 2002 dan 2003 geliat kegiatan arung jeram mulai dirasakan. Beberapa anggota Stapala yang pernah merasakan kegiatan arung jeram ketika SMA, dipelopori Muh.Muttaqun (735/SPA/2003)  mengajak rekan-rekan Stapala lainnya untuk menjadi pengiat arung jeram. Mulailah anak-anak Stapala merasa tertantang dan termotivasi untuk melakukan kegiatan arung jeram, yang di kalangan pencinta alam lain sudah begitu lama berlangsung.

Karena minimnya pengetahuan, ketrampilan, apalagi pengalaman, anak-anak Stapala memberanikan diri mengikuti pelatihan dasar arung jeram di salah satu kelompok pencinta alam di Bandung, akhir tahun 2003. Pengetahuan dan ketrampilan kemudian dipoles lagi dengan mengikuti latihan gabungan (Latgab) arung jeram bersama kelompok-kelompok pencinta alam di Jakarta. Sedihnya, Stapala tidak modal sama sekali dalam mengikuti pelatihan. “Agak malu juga awalnya”, cerita Andy Noor Isnaeni “Andec” (727/SPA/2003) mengenang saat itu. “Akhirnya Kita beli pelampung bekas di pasar ikan, dan bawa helm caving kalau latihan bareng, biar nggak terlalu malu”,Lanjut Andek.

Dari latihan-latihan bersama kelompok pencinta alam lain tersebut kemudian anak-anak Stapala mendapat ketrampilan, dan pengalaman. Secara struktur organisasi, pada periode BPH STapala 2003/2004 (Ketua Stapala Agus Wisnu “Tukul” 581/SPA/99) ORAD sudah dipisahkan dari Divisi CORAD (Caving dan ORAD). Secara de facto kegiatan-kegiatan ORAD baru dimulai pada BPH Stapala 2004/2005 (Imam Rusdiyantoro 638/SPA/2001). Ketua Divisi  ORAD 2003/2004 adalah M.Mutaqun. Sebagai divisi baru, ORAD (Olahraga Arus Deras) cukup mendapat perhatian dan minat dari banyak anggota Stapala.

Perahu arung jeram, yang menjadi idaman penggiat Stapala akhirnya dimiliki tahun 2005. Dengan niat yang begitu besar, anggota divisi ORAD menggalang dana dari berbagai sumber, dari jualan kaos sampai dengan nodong senior dilakukan. Si Koneng, begitu nama perahu karet itu dinamakan, akhirnya dibeli dengan 6 juta rupiah. Walau perahu bekas, Si Koneng menjadi kesayangan anak-anak Stapala, khususnya aktivis Divisi ORAD. Menjadi teman seperjalanan.

Tahun itu juga, Anak-anak ORAD menyiapkan diri untuk ikut kejuaraan nasional (kejurnas), setelah beberapa kali ikut kejuaraan lokal. Persiapan-persiapan dilakukan dengan seksama. Peningkatan kemampuan (ketrampilan) dilakukan dengan cara turun ke sungai Cisadane, atau ke danau Gintung. Latihan fisik dilakukan dengan mengikuti kegiatan fitness Centre di Kampus STAN. Kegiatan kebersamaan (Team Building) ya dengan cara nongkrong bareng di posko.

Semangat ikut kejurnas terpaksa diredam ketika panitia menyatakan Kejurnas tahun tersebut diikuti oleh perwakilan Pengda (pengurus daerah – setingkat propinsi). Stapala yang berada di wilayah kepengurusan FAJI (Federasi Arung Jeram) Banten,   harus mengelus dada. FAJI Banten belum terbentuk saat itu. Jadilah kemudian Stapala menjadi pelopor pendirian FAJI Banten, walau akhirnya tetap tidak sempat mengikuti kejurnas. Sampai sekarang Stapala belum pernah mengikuti kejurnas.

Tahun 2005 Stapala melaksanakan ekspedisi pengarungan 5 sungai secara marathon. Namanya “Java 5 rivers Run”, dengan kordinator Irvan (Komeng). Pengarungan sungai-sungai sekitar Jabotabek yaitu sungai Cisadane, Cianten,Citarum,Cicatih,Citarik, secara berurutan. Ekspedisi dapat diselesaikan dengan sukses berkat semangat dan kekompakan tim. Semua sungai dapat diarungi kecuali Sungai Cianten yang sedang susut airnya.

Tahun-tahun berikutnya divisi ORAD makin berkembang. Beberapa anak Stapala telah dipercaya menjadi instruktur di latihan gabungan pencinta alam. Si Koneng, sudah mendapat teman, perahu karet bekas sumbangan dari Gustav (166/SPA/88) yang aktif sebagai operator arung jeram di Probolinggo Jawa Timur. Pengetahuan dan ketrampilan mengarungi sungai telah menjadi materi wajib pada saat Diklat Stapala dan Masa bimbingan buat calon anggota stapala. Yang membanggakan adalah Posko Stapala di tetapkan sebagai salah satu posko penanggulangan bencana banjir Tangerang. Anak-anak Stapala diakui mempunyai kemampuan dalam evakuasi korban banjir besar jakarta tahun 2007, 2008. Waktu itu memang perahu Stapala sempat merayapi perumahan-perumahan sekitar kampus yang terkena banjir.

Perkembangan ORAD menjadi kebanggaan sekaligus tantangan bagi anak-anak ORAD. Apakah mampu mengimbangi semangat senior-seniornya. Latihan gabungan yang saat ini sudah jarang dilakukan sebetulnya sudah tidak lagi jadi kebutuhan karena stapala sudah memiliki peralatan lengkap. Cuma niat dan semangat yang harus selalu di jaga.

Wawancara Arung Jeram bersama  Irfan Rinaldi “Komeng” (747/SPA/2003) –Ketua Divisi ORAD 2005/2006  dan Muh.Muttaqun “Qunqun” (735/SPA/2003)-Ketua Divisi ORAD 2004/2005.

Gimana sih kisah lahirnya Divisi ORAD di stapala ?

Komeng :

Ide awalnya berasal dari Qunqun yang punya pengalaman kepencinta alaman khususnya Arung jeram semasa SMA. DI Stapala waktu itu ada divisi CORAD (Caving dan Olahraga Arus Deras), sebuah divisi kamuflase arung jeram karena memang pada saat itu kegiatan divisi ini murni hanya kegiatan Caving saja.
Adalah beberapa minggu setelah pelantikan anggota tahun 2003, Qunqun mengajak kami, anggota divisi CORAD dan STAPALA aktif lainnya untuk ikut serta dalam sebuah kegiatan pendidikan dasar arung jeram yang diselenggarakan oleh Kelompok Penggiat Alam di Bandung.Kemudia BPH STAPALA mengirimkan antara lain Qunqun (735/SPA/2003), Irfan Komeng (747/SPA/2003), Andy Noor Andec (727/SPA/2003), Irwan Eel (755/SPA/2003), Gama Aseng (733/SPA/2003), Moh.Zapar (732 SPA/2003), dan lain-lain.
Empat hari kami mengikuti kegiatan tersebut. Arung jeram telah menghipnotis kami. Kami pun pulang ke POSKO, berbagi cerita dan pengalaman baru dengan sombongnya. Sombong bahwa kami telah mengikuti kegiatan yang belum pernah dilakukan Stapala selama 20 tahun an lebih. Aih, alangkah menyenangkan sekali itu yang namanya menyombongkan diri saat itu. Hari-hari pun berjalan seperti biasanya setelah itu. Biasa dengan euphoria arung jeram di kepala kami. Kuliah dengan euphoria arung jeram, nongkrong di posko dengan euphoria arung jeram, ujian dengan euphoria arung jeram di kepala kami.
Qunqun kemudian mengajak kami untuk melakukan perjalanan ke salah satu sungai yang terletak di Probolinggo, Sungai Pekalen. Dan yang tidak kami sangka-sangka adalah ternyata minat STAPALA aktif terhadap perjalanan tersebut sangat besar. Terbukti dengan banyaknya STAPALA aktif yang mengikuti kegiatan tersebut. Ada sekitar 30 orang STAPALA aktif yang mengikuti kegiatan tersebut. Selama kurang lebih satu minggu kami melakukan perjalanan. Perjalanan yang sangat menyenangkan sekali. Yang pasti, kegiatan tersebut semakin menebalkan keyakinan kami bahwa sudah saatnya divisi arung jeram STAPALA menjadi divisi independen, memisahkan diri dari divisi CORAD. Latihan rutin dengan nuansa arung jeram mulai mewarnai sore-sore kami di Kampus.

Dan motivasi ini pula yang mempertemukan kami dengan Latihan Gabungan (Latgab) Arung Jeram MAPALA se-Jakarta.Latgab Arung Jeram MAPALA se-Jakarta adalah sebuah kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh para personel divisi arung jeram MAPALA se-Jakarta. Macam kegiatan yang sering dilakukan adalah teori kelas, pengarungan di danau, dan pengarungan di sungai. Selain itu, Latgab juga selalu berpartisipasi di dalam banyak kegiatan sosial, termasuk penanganan banjir yang memang sudah menjadi langganan bagi ibukota negara kita ini. Di Latgab, pengalaman kami tentang kegiatan berarung jeram jelas bertambah karena memang ada banyak sekali MAPALA dengan divisi arung jeram beserta kemampuan teknis arung jeram yang sudah cukup berumur. Akan tetapi, latar belakang yang sangat jauh berbeda menjadi kendala kami untuk secara rutin mengikuti Latgab. Dan anehnya, perbedaan ini yang semakin memotivasi kami untuk memiliki perahu sendiri.
Disusunlah sebuah rencana pengadaan perahu. Dengan motivasi yang luar biasa, dalam kurun waktu satu semester kami berhasil mengumpulkan dana yang cukup untuk membeli perahu lokal bekas. Sejak saat itulah divisi arung jeram STAPALA yang telah berdiri pada masa BPH 2005/2006 resmi memiliki perahu sendiri.

Qunqun :

Karena tidak punya perahu, Kami mencari info untuk bisa pinjam perahu, latihan bersama, atau Latihan Gabungan. Dengan modal surat dan MUKA TEBAL Kami bersilaturahmi ke beberapa penggiat arung jeram atau kelompok pencinta alam yang aktif di arung jeram.Sayangnya, dikesempatan awal Kami ditolak, dengan alasan Perahu tidak bisa dipinjamkan. Pengalaman Itulah yang membuat Saya miris mendengar saat ini perahu Stapala dipinjamkan dan rusak.

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Kami diajak ALPINISTE berlatih ke Danau Situ Gintung Ciputat, Tangerang. Kami membawa perahu mereka dengan cara portaging di pinggir jalan raya Ciputat. Dengan penuh semangat dan tanpa rasa malu sedikit pun, serasa paling anak PA. Seusai latihan, Kami pun pulang dengan penuh rasa bangga. Memang kalo kita sudah punya NIAT KUAT pasti ada aja jalannya. Waktu itu Didit (720/SPA/03) mengantarkan surat undangan ke MB ITI Serpong, ada pengumuman “ LATIHAN GABUNGAN ARUNG JERAM dan PEMBENTUKAN PENGURUS LATGAB di Universitas Pancasila Jakarta. Dengan bermodal NIAT yang kuat dan MUKA TEBAL, kami mendatangi Universitas Pancasila di Lenteng Agung. CICERA, nama kelompok Pencinta alam Univeritas Pancasila. Ternyata tidak ada latihan di atas perahu, tapi hanya pemilihan pengurus latihan gabungan. Sungguh pengalaman yang sulit dilupakan.
Gimana respon anak-anak Stapala terhadap kegiatan arung jeram?
Komeng :
Pada awalnya kegiatan arung jeram dimata Stapala aktif mendapatkan respon yang netral, tidak mendapat perlawanan sekaligus tidak mendapat dukungan yang berarti. Yang ada saat itu adalah “ya monggo wae.” atau bahkan ada yang berpikiran “arung jeram? Itu apa sih.”
Saat itu, kami memang seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, tidak peduli sama respon dari lingkungan sekitar. Kami hanya berpikir bagaimana caranya kami bisa ngarung, ngarung, dan ngarung, dan beli perahu, dan bikin divisi arung jeram STAPALA.

Apa sih yang bikin semangat ber arung jeram ?

Komeng :
Ada kepuasan tersendiri saat saya berhasil melewati sebuah jeram dengan mulus. Dan akan dengan sukarela menggotong perahu tersebut ke lokasi sebelum jeram kalau kami melewati jeram dengan acak-acakan. Kemudian, seru rasanya saat saya menemukan sebuah jembatan lalu dengan ikhlas loncat kodok dari jembatan tersebut. Makanan pun terasa sangat nikmat sekali saat disantap setelah berolahraga arung jeram. Sungguh menyenangkan melakukan perjalanan arung jeram, pergi dan pulang bersama-sama, tertawa-tertawa bersama-sama, hitam kulitnya bersama-sama.
Tapi, ada pula yang menyebalkan dari olahraga arung jeram ini, menyebalkan karena olahraga ini tidak bisa dilakukan secara individual. Jadi praktis, sudah sekitar dua tahun ini sejak saya penempatan di Banda Aceh tidak pernah berarung jeram ceria. Aih, curhat…

Gimana kisah akhirnya Stapala punya perahu ?


Komeng :
Pada saat itu, kami mungkin memang sudah diguna-gunai oleh yang namanya arung jeram. Sampai-sampai kami mengalami saat-saat dimana kami harus memotong urat malu kami supaya bisa ngarung. Tanpa modal apa-apa, tetep pede aja loh kami mengikuti Latgab.Sampai suatu saat kami memutuskan untuk memiliki perahu sendiri yang waktu itu terasa mahal sekali. Kami menjaring donasi alumni dan jualan sweater untuk membeli pelampung renang, properti arung jeram yang pertama kali kami punyai. Dan itu pun bukan pelampung standar arung jeram. Itu adalah pelampung renang yang sering digunakan oleh masyarakat di kawasan sekitar pantai yang kami beli di Pasar Ikan, Jakarta Utara, seharga Rp 30.000 per pelampung. Beberapa bulan kemudian barulah kami berhasil mengumpulkan sejumlah uang untuk membeli 5 buah pelampung standar arung jeram.

Beberapa bulan setelah pelantikan anggota tahun 2004, terkumpulah dana sekitar Rp 7.500.000,- . Kami membeli Sebuah perahu bekas berwarna kuning produksi Boogie yang sudah usang, namun masih layak pakai dari Kang Imam, salah seorang staf Alamanda, sebuah operator arung jeram di Cimande. Sebagai bonus, kami diberi beberapa buah pelampung standar arung jeram juga. Peralatan seperti dayung dan helm, kami beli di kemudian hari dengan menggunakan sisa dana yang masih ada. Akhirnya mimpi Kami untuk memiliki perahu dapat tercapai.

Qunqun :

Untuk membeli perahu dan perlengkapannya Kami mengumpulkan dana. Caranya dari mulai minta saran di milis Stapala, jualan Kaos, bikin celengan di posko, malak senior, sampai jual rongsokan besi yang ada di posko.

Di Milis Stapala Kami hanya dapat saran. Dari Senior, Kami sangat di dukung oleh Bang Dandossi dalam hal dana. Kami menjual tshirt putih lis biru yang ekslusif (nyontek desain tshirt peserta pendidikan Arung Jeram Hiawatha asal Australia). Untuk menjual rongsokan besi Kami sempat tidak diijinkan BPH, setelah terjual pun akhirnya dananya tidak dialokasikan untuk pengadaan perahu. Entah kenapa. Alhamdulillah usaha Kami menambah pundi pundi modal membeli perahu. Sambil mengumpulkan dana, kami pun terus mencari info perahu yang dijual.Pada suatu saat Kami bertemu seseorang yang ingin menjual perahu pribadi di Kebayoran lama. Walau akhirnya tidak jadi perahunya (kemahalan !) Kami berhasil membeli pelampung standar dan mendapat informasi operator Alamanda Rafting yang akan menjual perahu. Seperti yang sudah diceritakan, akhirnya Kami membeli perahu berdasarkan informasi tersebut.
Memang aneh yang kami lakukan.Normalnya pengadaan barangnya dulu yaitu perahu, sebelum peralatan yang lainnya. Atau yang sering terjadi, langsung mengadakan secara lengkap. Tapi terbalik, beli dulu dayung, pelampung dan lain-lain baru kemudian perahu nya. Oh ya ada cerita waktu membeli dayung pertama. Kami membeli dayung dari boogie Bogor. Senangnya bukan kepalang, punya dayung sendiri. Kami membawa dayung naik kendaraan umum dari Bogor ke Ciputat. Bayangin, berdesak-desakan di bis umum sambil membawa dayung. Setiba di Posko Stapala, dengan bahagianya Kami mengelus-ngelus dayung….dan mulai mimpi memiliki perahu !
Pada waktu itu Stapala ngarung kemana aja?

Komeng :

Ada tiga periode yang saya bagi pada saat saya masih menjadi anggota aktif STAPALA :

  1. Masa Ide awal dan berdirinya divisi arung jeram STAPALA

–          Sungai Citarum (pendidikan dasar arung jeram Hiawatha di Jatinangor Sumedang)

–          Sungai Pekalen (Probolinggo)

–          Sungai Cisadane ( Latgab MAPALA se Jakarta)

–          Sungai Progo (Magelang)

–          Masa saya menjadi ketua divisi arung jeram STAPALA periode 2004-2005.

  1. Masa selanjutnya sampai kepengurusan arung jeram periode 2006-2007.

–          Cianten, Cicatih, dan Citarik (Sukabumi)

–          Juara 2 Lomba dayung se Propinsi Banten di Sungai CIsadane.

Apa pesan elo buat rafter rafter stapala ?

Komeng :

Arung Jeram Terus Sampai Mampus !

Qunqun :

Rawat baik-baik segala properti Arung Jeram Stapala !

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

2 thoughts on “Menjaga Semangat Mengarungi Jeram

  1. brapa ya harga raftingnya perorang??

    Posted by echa | September 19, 2010, 3:01 pm
  2. buat echa, harganya macam2 .. tergantung trip nya … kalo ingin lebih jelasnya bisa langsung menghubungi anak posko STAPALA, tanya aja tentang Fun Rafting, lebih bagus ajak teman2 yang banyak supaya lebih seru …
    no. telpon posko stapala : 021-7371171

    Posted by muttaqun | June 12, 2012, 7:04 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: