you're reading...
Posko

No Place Like Posko Stapala

Posko Stapala tak ubahnya rumah sendiri buat anggota Stapala. Setiap hari anggota Stapala, ketika masa aktifnya, nongkrong di posko.

Tidak jarang anak Stapala menetap di posko berhari-hari, berminggu-minggu bahkan menetap. Beberapa posko mania, atau di era 90 an sering disebut kodok posko, tetap menginap di posko setelah lulus kuliah.Posko adalah salah satu tempat paling dicintai anak Stapala.

Hingga tahun 2008, posko Stapala telah berpindah 2 kali. Mulanya berada di sudut Lantai 2 Gedung A Kampus Purnawarman Kebayoran Baru. Luas posko Stapala ketika itu hanya sekitar 4 X 4 M2. Nggak heran, untuk menyimpan perabot yang bejibun dibutuhkan tempat di atas plafon. Karena sempit, anak stapala sering rapat di kelas-kelas, dan nongkrong di teras posko maupun di kantin kampus.

Posko Stapala di kampus Purnawarman pindah ke Kampus Jurangmangu di tahun 1990-1991, seiring dengan mulai berpindahnya Kampus STAN dari Purnawarman ke Jurangmangu. Ketika sebagian mahasiswa masih kuliah di Kampus Purnawarman, Posko Stapala otomatis ada 2 (dua) di Purnawarman dan Jurangmangu. Tapi sejak Semua aktivitas STAN berpindah ke Jurangmangu, Posko Stapala otomatis pindah ke Jurangmangu.Secara formal perpindahan Posko Stapala di resmikan pada saat Ulang tahun Stapala ke 11 tahun 1992, ditandai dengan Long March membawa bendera dari Posko Purnawarman ke Posko Jurangmangu. Perjalanan long March menyusuri rel Kerata Api tersebut dilakukan oleh satu regu Stapala angkatan 1991.

Posko tahun 1990

Sejak tahun 1991 tersebut, Posko Stapala menempati sudut Gedung G atau kini disebut Gedung Ali Wardhana. Posko Stapala sempat bernomor G.106, G.107, dan kini G.112. Kampus yang tadinya bernama Kampus STAN Jurangmangu, perlahan berubah menjadi Kampus STAN Bintaro, seiring dengan dibangunnya Perumahan Bintaro. Kampus STAN yang awalnya menghadap ke Jl. Ceger Raya, berubah menghadap ke Jl. Bintaro Raya. Perubahan nama dan letak Kampus STAN, sedikit banyak ikut mewarnai kehidupan Posko Stapala di pertengahan tahun 90-an.

Di awal tahun 90-an Posko Stapala adalah lokasi yang begitu strategis. Cewek-cewek pulang kuliah menuju asrama putri pasti lewat depan posko, kenang beberapa pentolan angkatan 90-an. Banyak anak Stapala yang hobi nongkrong untuk menunggu adem jalanan ke gerbang kampus yang waktu itu cukup jauh dan belum ada pohon rindang. Sebagian lagi nongkong karena menunggu kuliah siang. Sebagian besar lainnya nongkrong di posko karena memang cinta berat dengan aura posko yang nyaman dan anak-anak Stapala yang gemar becanda.Satu hari tidak mampir posko berarti ketinggalan berita, gossip, dan celaan teranyar.Apalagi di era itu belum ada telpon, apalagi handphone. The place that never sleep, begitu julukan bagi posko stapala untuk poskonya tercinta.

Tahun 1992, posko Stapala mengecil, karena sebagian ruangan diminta kampus untuk digunakan untuk keperluan lain kampus. Kejadian ini dianggap bencana besar bagi anak-anak Stapala. Posko Stapala mengecil, tepatnya dikecilkan, menjadi setengah dari luas semula. Tentu saja peralatan dan aset yang begitu banyak perlu di aatur ulang tata letaknya. Gossipnya, posko stapala di perkecil untuk menutup akses Stapala ke delam gedung G. Awalnya memang posko Stapala punya akses langsung ke dalam gedung G, sehingga sering pada malam hari bermain basket di gedung G. Gua dan Thofa Iskandar (168/SPA/88) hapal tuh semua letak tombol dan sikring untuk menyalakan lampus gedung G, ujar salah satu anggota Stapala yang sering ketika itu sering menginap, Indra Jabrix (263/SPA/90).

Posko Kampus Purnawarman

Saat ini, Posko Stapala juga tempat yang paling nyaman buat anak- anak Stapala. Teras Posko Stapala diteduhi pohon besar yang sangat rindang, bisa teriak ngebon the botol ke akang, bisa mengamati rekan-rekan yang latihan manjat di Dinding Panjat, atau memperhatikan mahasiswa-mahasiswi yang nongkrong di plasa mahasiswa (plasma). Saking nyamannya, pernah di tahun 90-an memelihara ular di bawah tegel teras posko. Sebetulnya bukan dipelihara, tapi ular yang nyasar ke teras stapala, dan takut keluar karena lubang keluarnya selalu ramai orang nongkrong.

Ketika awal pindah dari Kampus Purnawarman, posko stapala terasa senggang. Luas posko yang dua kali luas sekretariat kegiatan kampus yuang lain, sangat mampu menampung aset posko yang masih sedikit. Isi posko Stapala Cuma ada lemari arsip, buffet arsip, meja rapat besar, dan kursi sofa panjang (yang selalu jadi rebutan untuk tempat tidur). Tembok posko selalu dicat warma putih atau krem, Cuma sekali Posko stapala berwarna biru yaitu ketika periode Ketua Israwan Nugroho (196/SPA/89)

Malam minggu adalah malam istimewa di Posko Stapala, anak-anak Stapala yang masih sorangan atau jomblo biasanya nongkrong sampek pagi. Sebagian menghabiskan waktu dengan ber kreasi melalui diary Stapala atau komputer, sebagian bermain truf (permainan paling nge trend sejak awal tahun 90-an di posko), sebagian lagi curhat ini itu setelah ngapel. Tidur di posko tidak pernah ada aturan. Saling himpit dan rebutan posisi adalah hal yang biasa. Sebagian anak Stapala bahkan hobi tidur di bawah langit terbuka di teras posko. Seakan di alam bebas.

Ada pameo di Stapala, bahwa seleksi terberat anggota baru bukanlah pada saat Diklat Stapala, tetapi ketika mulai nongkrong di posko. Kadang cela-celaan sadis tidak melihat anggota baru atau anggota senior. Banyak sudah pengalaman dimana anggota baru shock dan harus menunggu waktu cukup lama untuk kembali ke posko.

Posko 1992

Posko stapala di akhir 80-an atau awal 90 an, seperti halnya Kampus STAN, terisolir dari dunia luar. Telpon belum masuk ke wilayah jurangmangu. Untuk nongkrong di mall harus jauh ke Blok M Kebayoran Baru. Untuk Nonton film harus ke Amigo di Kebayoran Plasa, kecuali mau nonton film-film kuno bisa di Pondok Aren Theatre ( sekarang Mitra 10 ). Untuk belanja logistik sebelum mendaki gunung, biasanya anak stapala mampir ke Golden Truly Blok M. Keetika itu pertukaran informasi banyak menggunakan surat, sehingga Stapala sempat membuat PO Box. Telpon mulai terpasang di pertengahan 90 an, berbarengan dengan mulai dibukanya Bintaro Plasa tidak jauh dari Kampus STAN.

Tidak selalu Posko Stapala menjadi tempat yang hangat dan ceria, kadang juga harus menyaksikan air mata kegagalan dan perselisihan. Kesedihan begitu terasa ketika ada anggota Stapala yang harus mengulang kuliah, Drop Out (DO) atau bahkan beberapa kali ada anggota Stapala yang meninggal dunia. Pernah lho, Stapala mengibarkan bendera setengah tiang ketika 5 orang anggota BPH harus drop out kuliah di tahun 1991, cerita Israwan (196/SPA/89). Posko Stapala juga pernah menjadi saksi ketika terjadi perkelahian anak-anak Stapala dengan kelompok mahasiswa tertentu, atau dengan komunitas tertentu masyarakat sekitar di tahun 1992.

Untuk urusan boker atau buang air, sering anak-anak posko punya masalah. Di awal tahun 1990 an masih bisa dilakukan di toilet belakang gedung G, selanjutnya pindah ke toliet Satpam, dan terakhir harus berkenan berjalan dulu ke mushola kampus Diklat Pendidikan Luar Negeri, sekitar 200 meter dari Posko Stapala. Ah, nggak mempengaruhi kenyamanan, celoteh kodok-kodok posko dulu dan sekarang.

Diary Stapala adalah salah satu benda paling dicari di posko Stapala. Buku diary sangat istimewa buat anak Stapala semua karena buku diary ini digunakan sebagai sarana kita untuk menumpahkan semua unek-unek, kekesalan, kebahagiaan dan kesedihan. Malah ada yang memanfaatkan untuk undangan nikah. Diary itu jadi semacam blog bersama untuk anggota Stapala. Cukup efektif. Ada yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi yaitu emosi tulisan. Kalo kita dapat surat dengan tulisan tangan yang tekanan tulisannya berat hingga membekas disurat, kemudian tulisannya agak miring bisa menunjukkan emosi sang penulis. Diary telah menjadi saksi sejarah perjalanan anak Stapala.

Posko 2005

Akhir tahun 90-an sampai dengan saat ini posko Stapala makin hidup. Saat ini Posko Stapala selalu hidup 24 jam sehari. Ada saja anak Stapala yang ada di Posko, jam berapa pun. Apalagi setalah mulai pertengahan 90-an posko dilengkapi oleh macem-macem perabot modern. Kalau di awal 90-an anak stapala nginep ditemani kodok (mangkanya di sebut kodok posko), kemudian stapala mulai dilengkapi komputer, TV, telpon, dan AC. Makin betah aja anak stapala mengekspresikan diri. Fasilitas dan aset Stapala sebagian besar adalah warisan dari anak Stapala, atau hasil urunan dari satu angkatan tertentu Stapala. Apalagi kemudian di sekitar tahun 1994 ada tradisi makrab atau malam keakraban yang  rutin diadakan untuk ajang ber akrab ria antar anggota Stapala.

Tahun 2004 ketika Stapala membeli perahu, posko Stapala makin terasa sempit. Perahu terpaksa diletakan di pasak-pasak bambu yang dipasang di dalam posko. Posko Stapala makin terasa sempit dengan makin banyaknya peralatan dan dokumen yang harus di simpan. Album-album photo yang begitu banyak dan terlepas-lepas dari album. Diary Stapala yang jumlahnya sudah mencapai ratusan, yang walau lecek-lecek tapi begitu dicintai anggota Stapala. Peralatan-peralatan pendakian seperti carrier, matras, tenda, yang makan tempat. Lemari buku yang makin reyot dan tidak mampu menampung dokumen.

Persoalan rumah tangga ini memang makin menjadi masalah pelik. Anggota Stapala banyak yang tidak paham atau tidak peduli dengan aset-aset Stapala. Banyak foto atau dokumen laporan perjalanan yang tidak tercium lagi keberdaannya. Entah dimana slide-slide ekspedisi yang pernah dilakukan. Dengan berat hati, hal tersebut bisa dimaklumi, palagi jika kegiatan Stapala sedangbanyak-banyaknya. Ketika tahun 2008 terdengar bahwa Posko Stapala harus pindah lagi karena akan ada renovasi kampus besar-besaran, banyak anak Stapala terkejut dan prihatin. Rumah pohon dan kebun bunga Stapala harus dikemanain dong….

Lepas dari hal itu semua Posko Stapala tetaplah rumah bagi anak-anaknya. Mau rapi, bersih, dan teratur atau berantakan, kumal, dan bau yang penting tetap membuat kerasan penghuninya serta membuat gairah dan senang. Dan tetap melahirkan ide-ide kreatif aktivitas yang bermanfaat.

Posko 2009

Agustus 2009, dengan alasan renovasi gedung, Stapala di perintahkan untuk meninggalkan Posko G.112. Tentu saja berita ini menggegerkan wadyabala Stapala diseluruh pelosok dunia. Stapala siap lahir batin untuk memulai hidup baru tanpa posko G.112. Konsolidasi ide,saran,tenaga, dan biaya telah dilakukan untuk mewujudkan rumah baru Stapala. Sementara belum ada posko, anak-anak stapala tetap selalu berkumpul . Bisa di rumah salah seorang anggota atau di plasma mahasiswa. Pihak almamater memang tidak menyediakan alternatif ruang sementara. Seluruh aset dan barang-barang milik Stapala diselamatkan ke rumah-rumah anggota Stapala.

Posko boleh tiada, tapi stapala akan selalu ada…..

Posko bukanlah bentuk fisik infrastruktur, Posko ada di hati masing masing anggota.

Teras rumah Kita

Mengenang Posko yang hilang, Gustav pun hadir dari Surabaya (2009)

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: