you're reading...
Uncategorized

Arti Stapala untuk seorang Kharina

kharinaPertanyaan ini kalau gue enggak salah (maap ya kalau salah), pernah dipertanyakan kak Jabrix, menjelang ulang tahun Stapala yang ke 30, itu gue bacanya di facebook deh. Waktu itu memang pertanyaan nya enggak gue gubris, cuman gue baca sekilas bahkan komentar – komentar dibawahnya tidak menjadi perhatian gue (sorry kak Jabrix)

Trus kapan pertanyaan ini terlintas di gue? Waktu gue baca emailnya kak Jabrix tentang GeKa Stapala di Menado. Dan ini isinya :   “greaaattt   !!!

 

2012/9/24 Buchori <buchori@gmail.com>

 

Nilai-nilai yg diciptakan oleh peserta GeKa Stapala di BDK Manado mereka tidak butuh diajari, yang mereka butuhkan hanyalah:


ruang untuk berkreasi.

kesempatan untuk berbuat kesalahan.

kesempatan untuk belajar dari kesalahannya, dan

kesempatan untuk berbuat salah lagi:D

Entah kenapa, gue jadi merenung kembali, kenapa sih dulu gue pingin banget bergabung di Stapala trus apa sih sebenarnya arti Stapala buat gue. 

 

Untitled-Scanned-479

Kharina di Posko Stapala era 90-an

 

Alasan gue tentu aja pernah jadi bahan tertawaan satu kost gue, yang gue ajak bersama – sama ikut diklat Stapala.  Soalnya menurut teman – teman gue, mustinya gue mau masuk STAPALA karena gue demen naik gunung atau  kegiatan outbond lainnya, bukan karena pingin bisa bergelantungan di Gedung G begitu. Tapi ya secara gue itu keras kepala – keukeuh, tertawaan mereka ya tidak mempengaruhi  niat gue dong.

 

Dan ternyata yang gue dapat dari Stapala itu lebih besar dari pada bisa rappelling jumaring. Gue belajar untuk tidak takut mengeluarkan pendapat gue, kepada senior senior gue. Gue belajar untuk menghargai senior senior gue dan bukan merasa takut.  Gue juga belajar untuk menghargai junior junior gue.  Belajar untuk memberi kesempatan kepada mereka yang memperlihatkan keseriusan mereka tanpa harus memandang mereka belum/sudah  berpengalaman.

 

Trus nih ini yang baru gue “ngeh” – gue belajar persamaan gender mula – mula justru di STAPALA. Ditengah tengah kampus yang pada jaman gue (enggak tau deh jaman sebelum gue dan sesudah gue) dimana perempuan itu sulit banget untuk  bisa melakukan aktivitas yang kebanyakkan di lakukan oleh laki laki, justru STAPALA memberi ruang kepada gue, untuk melakukan apa saja (tentu ajah yang normal ya :D), tanpa ada diskriminasi.  Walaupun di luar sana setelah keluar dari posko, gue sering mendapat “panggilan’ dari senior senior perempuan  di spesialisasi gue.  Tapi ya sekali lagi, karena gue itu keukeuh dan gue merasa tidak melakukan hal yang salah,  ya pastilah,  “ceramah ceramah” itu tidak gue dengar sama sekali. 

 

Yang lain nya? Ya pasti deh, karena STAPALA, gue punya banyak saudara, yang  tidak akan berbasa basi tapi pasti akan jujur ngasih pendapat (ya itulah STAPALA,  bicara nya memang sering terlihat kasar, tapi gue tahu hati nya pada romantis romantis – buktinya bisa dilihat dari puisi puisi di Diary Stapala – itu seperti wajah rocker hati dangdut deh hahahahahaha  – untuk statement ini sepertinya gue harus siap siap disambit sepatu deh😀 ).  Salah satu yang menyentuh gue, gue bisa meminta tolong orang yang sama sekali belum pernah gue temuin hanya karena satu alasan: sesama anggota “STAPALA”. 

 

So, walaupun kata beberapa orang gue sempat mempunyai masa dimana gue “menghilang” dari  STAPALA, tapi ya sebenarnya STAPALA itu selalu menjadi tempat di hati gue. Itu seperti “home”  – wherever  you go, whatever you do, there is one place you always want to go back – there is home . Place where the heart is. So, that is STAPALA for me.

 

 

PIN STAPALA

 

Salah satu barang yang gue cintai, dengan bangga gue miliki, dan gue perlihatkan ke orang – orang yang dekat dengan gue, yang gue simpan di tempat yang istimewa, dan gue bawa kemanapun gue pindah dan kemudian gue tangisi berhari – hari sewaktu hilang karena kecerobohan gue itu adalah pin Stapala. Iyah pin Stapala yang bergambar logo Stapala itu. Tidak berupa emas, tidak juga mahal, tapi kalaupun gue beli sekarang, makna nya tidak sama lagi dengan pin gue yang dulu itu.  Yup, I am too sentimental, but I can’t help myself for this little thing.

 

Kenapa pin itu sebegitu besar maknanya buat gue?

Ceritanya begini,  dulu diangkatan gue di Stapala (sorry, gue enggak mengikutin peraturan Stapala yang  sekarang, mungkin peraturannya udah berubah😀 ), setelah lulus diklat Stapala, pin itu baru bisa diberikan kalau kita sudah naik gunung (bahasanya mendaki yah?) yang tingginya itu 3000m ke atas.

 

Nah, karena pada saat gue dilantik di bulan September  (nah bulannya selalu gue inget, karena deket sama dengan ulang tahun gue : D)  di Gunung Gede yang notabene itu kurang dari 3000m. Maka jadilah, teuteup dilantik tapi enggak dapat pin. Teuteup dapat slayer dan boleh pake baju seragam, tapi teuteup tidak pake pin.  Uhm ……

 

Buat gue yang memang punya masalah untuk mendapat ijin mendaki gunung (still same question, naik gunung ato mendaki gunung sih?)   tentunya persyaratan 3000 m ini agak sulit gue penuhin.  Jadi ya  selama hampir satu tahun, teuteup ajah,  selagi teman – teman angkatan gue udah berbangga  ria dengan pin – pin itu, gue teuteup tidak pake pin. Tersiksa ? Karena, judulnya ‘jealous’, tentunya rasa tersiksa nya bisa dibayangin dong ya. Maka jadilah si pin ini, jadi barang yang  gue yang selalu muncul di mimpi gue, memanggil manggil gue untuk dimiliki. LOL 

 

Nah, enggak tau deh idenya siapa, kemudian ada ide untuk diklat tahun 94 –  angkatan gue yang belum punya pin, bisa berangkat naik ke gunung pangrango dulu, kemudian setelahnya bersama – sama ikut upacara pelantikan anggota baru di gunung gede. Terus terang (kayak lampu Philips yang terang terus  itu :D), ya … banyak lah pasti yang meragukan kemampuan gue (gue ya bukan teman – teman gue yang ikut naik ya), sewaktu gue dengan senangnya mengajukan diri untuk ikut ke pangrango, karena ya gue  memang tidak pernah naik gunung lagi setelah pelantikkan gue di gede tahun sebelumnya. Dan juga mungkin ya dari segi profil, gue juga enggak keliatan tuh semodel anak gunung gitu😀 Atau emang lagi senang ajah nyela gue. LOL Pokoknya enggak pada yakin deh, gue mampu naik ke Pangrango – turun – naik ke Gede. Tapi ya … gue kan waktu dulu tuh masih berdarah muda (kayak lagu bang Roma itu😀 ), ditantang dikit ajah pasti langsung  merasa tertantang pingin ngebuktiin.

 

Ya jadi deh, dengan tekat bulat , gue pergi naik ke sana tentunya tanpa ijin ortu dong😀, tanpa rasa takut diomelin kalau ketauan, soalnya pada saat itu, sepertinya sih enggak sebanding deh omelan ortu dengan celaan yang gue dapat karena tetap pake seragam tanpa punya pin. Duh… waktu itu gue merasa terhina dina sekali deh kalau dicela gara – gara pin (yup I am kind of drama queen sometimes. LOL)

 

Yang gue ingat itu tuh angkatan gue yang ikut perempuan semua – gue, Muji , Yeti trus almarhum Deseline, trus siapa lagi ya, lupa gue😀 Ditemanin kak Danang dan kak Dadang. Bisa kebayang deh, bagaimana gue yang jarang naik gunung harus naik 2 gunung dalam sehari.

 

Perjalanan nya sendiri? Uhm …. Kalau gue pikir – pikir sekarang sih , kayaknya belum tentu deh gue bisa mengulang lagi. Soalnya jatuh itu sudah tidak terhitung – thanks God gue tuh jalannya barengan terus sama Muji Maha Asih (sesuai deh dengan namanya maha asih) dan kak Dadang – yang baik banget yang mau dengan sabar, nungguin yang gue yang jatuh melulu😀. Cape mah sudah enggak terkira. Nyampe di Pangrango di sambut hujan, enggak bisa ngeliat Mandalawangi, soalnya gelap banget kan enggak ada bintang karena hujan. Turun juga jadi licin yang berarti jatuhnya itu dua kali lipat dari berangkat, dan kaki yang sudah ngambek, susah banget dipake untuk jalan.

 

Tapi ehm, tentu ajah semuanya jadi terbayar  lunas nas nas ….. sewaktu gue diberikan pin oleh Kak Sopa.  Itu moment yang luar biasa yang selalu gue ingat in detail sampe sekarang (padahal banyak banget hal – hal penting di hidup gue, yang gue lupakan detail nya, maklum ya sejalan dengan umur – kemampuan mengingat juga sepertinya berkurang tuh . LOL)

 

Dan kemudian ketika gue pulang nyampe di kost gue, yang gue liat selain memar – memar biru – biru itu di sekujur tubuh gue, tentu ajah, kuku jempol kaki gue yang sukses copot dua – duanya dan kaki gue yang  bengkak sebengkak bengkaknya seperti kena penyakit kaki gajah😀 Dan itu berarti selama 2 minggu kuliah gue tidak bisa pake sepatu, harus naik ke lantai 3 dengan kaki gajah gue, dan juga harus bisa mengecilkan diri gue sekecil mungkin biar enggak keliatan ama dosen, pake sandal jepit( karena sepatu gue yang ukurannya 35 itu tidak bisa menampung kaki gue yang segede gajah) kuliah😀

 

Nah, karena pengorbanan sudah begitu banyak untuk mendapatkan sebuah pin, maka jadilah pin itu barang paling berharga buat gue. Tidak ternilai deh. Gue bangga – banggain, gue simpen di tempat khusus yang gue kira tidak akan hilang, tapi ternyata terlalu khusus makanya bisa hilang. Makanya enggak salah dong gue, nangis berhari – hari, sewaktu tahunpin gue itu hilang, karena keteledoran gue (ehm, tapi apa sebenarnya alesan gue ajah ya ini, biar enggak dianggap cengeng nangis berhari – hari cuman karena sebuah pin hahahahhaaa).

 

Kalau sekarang sih, setiap melihat pin stapala, gue  jadi kangen deh sama pin gue yang hilang itu (still lebay .com LOL)

 

Salam

Kharina  Dhewayani– 425/SPA/93

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: