you're reading...
Kisah Petualangan

Pendakian Gunung Rinjani Desember 2013

Menjelang akhir 2103 kemarin masih terbayang-bayang “nikmat”nya pendakian ke Gn. Awu Tahuna, Semeru Ceria 2013 bersama 23 orang rombongan Stapala and Fam dan perjalanan bersama old boner Stapala; Assue (057/SPA/85) dan Gustav (166/spa/88) ke Gn. Klabat. Serunya hiking sambil hujan2an di Gn. Awu bersama Obor (887/SPA/2009), rame-nya Semeru Ceria dan gemeretak dengkul bernyanyi di Klabat membuat tahun 2013 jadi kenangan yang indah untuk dikenang. Namun ternyata tahun 2013 itu belum selesai, masih ada kejutan tambahan yang menanti dan merupakan kejutan yang besar…!

Tepat pertengahan Desember 2013 ada panggilan tugas yang membuat gue harus “berkunjung” ke Kota Mataram pada tanggal 19-21 Desember 2013. Otak “cerdas” gue langsung bekerja membaca sinyal-sinyal positif panggilan dari Gn. Rinjani. Kesempatan besar nih buat membayar hutang 20 tahun keinginan untuk ke Rinjani yang belum terwujud. Setelah koordinasi dengan Gamex (796/SPA/2006) sebagai juru kunci Stapala untuk wilayah Gn. Rinjani, kami janjian deh untuk naik ke Rinjani Jumat malam, 21 Desember 2013 lewat jalur Sembalun. Selain sama Gamex gue juga ngajak temen seangkatan gue Agus “Singo” buat jadi “korban” nemenin gue naik Rinjani (buat bemper kalau fisik gak mendukung, hehe..). Selama bertugas 3 hari di Mataram gue ditemenin Gamex tiap malam nyempet2in buat belanja logistik dan peralatan pendakian, maklum aja gue berangkat ke Mataram cuma bawa perlengkapan seadanya aja.

rinjani chorJumat sore, 21 Desember, gue akhirnya ketemuan sama Singo di Kanwil Pajak Mataram. Rencana langsung berangkat ke Sembalun sore itu juga gagal total karena kami di”bajak” oleh Kabid P4 dan Kabid KEP untuk ditraktir makan Ayam Taliwang, jadilah kami jalan2 dulu ke Kota Mataram menikmati ayam bakar Taliwang yang maknyuss..! Setelah puas menyantap Ayam Taliwang, gue, Singo dan Gamex akhirnya berangkat ke Sembalun, kira jam 10-an malam kita nyampe di sana langsung kontak sama porter yg udah dipesen dan numpang tidur di salah satu kamar yang kosong. Lumayan dapet kamar kosong yang ada kasurnya jadi bisa tidur nyenyak sekitar 3-4 jam.
Sabtu dini hari kira2 jam 2 pagi kami udah bangun dan siap2 jalan memulai pendakian…buat para old boner setipe gue kayaknya jam segini rekomended deh buat mulai proses pendakian, tidur udah cukup, udara seger dan gak panas, trus menjelang pagi jadi gak terlalu ngantuk. Perjalanan mendaki Gn. Rinjani pun dimulai dengan menelusuri perbukitan Sembalun di bawah sinar bulan purnama yang sangat terang, sehingga kadang-kadang tanpa menyalakan senter jalur pendakian cukup jelas terlihat. Perjalanan sangat lancar dan sekitar jam 7 pagi kami sudah sampai di pos 2, setelah sebelumnya menikmati keindahan pelangi kembar yang muncul akibat cahaya matahari dari lereng Gn. Rinjani menembus gerimis pagi. Setelah menikmati sarapan pagi yang super nikmat….. dengan menu nasi putih , telur dadar, ikan asin, sayur sop masakan para porter (memang nikmat naik gunung bawa porter, hehe..) kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Perjalanan menuju pos 3 masih terbilang nyaman dengan naik turun bukit yang tidak terlalu terjal dan cuaca yang mendung kadang-2 gerimis sangat mendukung perjalanan jadi terasa sangat nyaman. Di kejauhan sudah tampak “Tujuh Bukit Penyesalan” yang seperti menggoda dan membuat dengkul lemas dengan hanya memandangnya saja…(gimana pas udah ndaki…hufh).
Sekitar jam 10-an pagi kami akhirnya sampai di pos 3. Pos 3 ini merupakan pos terakhir sebelum jalur pendakian mulai menanjak dengan terjal. Memang pos ini benar-benar terletak di bawah atau di kaki “Tujuh Bukit Penyesalan”. Setelah beristirahat sambil menikmati makanan kecil dan minuman kurang lebih setengah jam kami memulai “pendakian” yang sesungguhnya menuju puncak Pelawangan Sembalun. Perjalanan mendaki “Tujuh Bukit Penyesalan” ini agak sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata dan hanya bisa “dirasakan”dengan menjalaninya. Tip paling jitu untuk melewati jalur Tujuh Bukit Penyesalan adalah dengan cara menikmati 3 hal yaitu:
– Menikmati Pemandangannya;
– Menikmati Tanjakannya; dan
– Menikmati Penyesalannya..hehe..
Setelah berhasil menikmati tiga hal tadi ditambah bonus memaki-maki diri yang udah uzur tapi masih suka cari gara-gara capek-capek naik gunung selama hampir 5 jam lebih, akhirnya sekitar jam 3 atau 4 sore, kami berhasil menjejakan kaki di Pelawangan Sembalun. Seluruh area pelawangan tertutup kabut dan sama sekali tidak bisa melihat pemandangan ke arah Danau Segara Anakan.
Karena badan udah terasa remek dan perut keroncongan kami langsung masak makanan (porter yang masak) dan mendirikan tenda (porter juga yg ngerjain, hehe…) dan istirahat ngelurusin kaki. Setengah jam kemudian Sayur Ayam bumbu Kari pun siapa untuk disantap dan dalam sekejap musnah kami lahap, rasanya…? super mak nyusss…!!!
Setelah kenyang makan dan karena cuaca yang sangat mendukung (berkabut serta hujan) kami pun memutuskan untuk tidur untuk mengumpulkan tenaga dan berpesan kepada porter untuk dibangunkan jam 3 pagi untuk memulai pendakian menuju puncak Rinjani. Hujan yang lumayan deras di Pelawangan Sembalun sore dan malam hari itu membuat suasana tidur yang sangat nyaman….seandainya tidak ada gangguan si Gamex yang ngoroknya minta ampun…!!! akhirnya yang terjadi malam itu adalah adu kuat ngorok…yg kalah terpaksa terbangun menikmati merdunya suara ngorok lawan. Walaupun akhirnya kelelahan yang sangat membuat suara ngorok dan hujan menjadi iringan tidur yang merdu dan membuat semakin nyenyak tidur.
Jam 2 pagi kami bangun dengan makanan hangat yang sudah tersedia dan siap santap…, sementara di punggung jalur menuju puncak Rinjani sudah tampak kerlap kerlip lampur senter dari para pendaki yang sudah mulai muncak. Lampu-lampu itu menjadi penyemangat kami untuk segera memulai perjalanan menuju puncak Rinjani. Setelah menyantap “sarapan” dinihari kami pun mulai melangkah menembus kegelapan secara perlahan mendaki jalur berpasir yang mudah sekali merosot. Setengah jam pertama perjalanan dari Plawangan Sembalun menuju puncak terasa sangat berat karena jalur pasir yang sangat terjal. Setelah mencapai bibir kawah jalur mulai agak melandai dan tidak terlalu terjal namun tetap merupakan jalur pasir dan berbatu. Namun hambatan lain mulai muncul, yaitu turunnya hujan dan angin yang sangat dingin sepanjang perjalanan menuju puncak. Dengan hidung yang beler berair karena dingin serta pipi kiri yang membeku karena terpaan angin yang sedingin es dari sisi kiri lereng Rinjani kami pun melangkah setapak demi setapak menyusuri punggungan kawah Rinjani. Semakin lama angin semakin keras menghembus sambil diselingi hujan, sementara kondisi cuaca sangat gelap tidak ada tanda-tanda matahari akan bersinar. Jarak pandang yang hanya beberapa meter karena kabut dan badai membuat lebih dari separuh pendaki memutuskan untuk berhenti dan kembali ke Pelawangan Sembalun. Semakin lama langkah kaki terasa semakin berat, ditambah hanya tinggal beberapa orang saja yang meneruskan perjalanan menuju puncak. Sehingga saat melihat ke depan atau ke belakang tidak terlihat seorangpun mendaki karena jarak antar pendaki yang semakin jauh dan kabut yang semakin tebal menutupi jalur pendakian.
chori rinjaniSetelah 5 jam lebih “menikmati” badai dan kabut di lereng Rinjani akhirnya kurang lebih pukul 8 pagi WITA, gue berhasil mencapai puncak Rinjani, 3767 mdpl. Saat gue sampe di puncak hanya ada 3 orang saja saat itu, yaitu Gamex dan dua pendaki lain yang sudah duluan mencapai puncak. Tidak ada pemandangan yang terlihat karena sekitar puncak tertutp kabut tebal, jarak pandang hanya 5-10 meter saja. Setelah foto-foto sebentar saat ada sedikit sinar matahari yang menerobos kabut, kami pun langsung turun menuju Pelawangan Sembalun. Perjalananan turun hanya 2 jam saja sudah sampai di Pelawangan dan disambut pemanadangan Danau Segara Anakan yang sangat indah dan menghanyutkan….! Akhirnya kabut mau menyingkir juga dan memberikan kesempatan kepada kami untuk menikmati keindahan alam yang sangat luar biasa ini..! Setelah istirahat dan makan siang sambil menikmati keindahan Danau Segara Anakan, sekitar jam 12 kami turun menuju Sembalun. Jam 6 sore kami sudah sampai di Sembalun, mandi dan packing kemudian langsung berangkat menuju lombok dan sekitar jam 11 malam sudah ngorok di kasur hotel yang empuk, yang terasa sangat sangat nikmat untuk tidur setelah menikmati perjalanan yang mengasyikan…!

Oleh Buchori (237/SPA/90)

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

One thought on “Pendakian Gunung Rinjani Desember 2013

  1. fotonya kok kaya pasangan sih? *no offense

    Posted by mydamayanti | April 22, 2014, 9:52 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: